JurnalLugas.Com – Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio dikabarkan tidak berminat bersaing dengan Wakil Presiden JD Vance untuk memperebutkan tiket calon presiden dari Partai Republik pada pemilihan presiden 2028.
Sikap tersebut terungkap dalam percakapan tertutup yang dilaporkan MS NOW pada Rabu, berdasarkan keterangan sejumlah sumber. Rubio disebut lebih memilih berkonsentrasi menjalankan tugasnya di pemerintahan Presiden Donald Trump ketimbang mulai membangun persaingan politik menuju Gedung Putih.
Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan, sejauh ini tidak terlihat tanda-tanda Rubio ingin meninggalkan jabatannya.
“Dia sangat senang dengan pekerjaannya saat ini,” kata pejabat tersebut, seraya menegaskan bahwa situasi itu masih bisa berubah.
Sinyal tersebut muncul ketika persaingan untuk menentukan penerus Trump mulai menjadi perhatian di lingkungan Partai Republik. Meski pemilihan masih dua tahun lagi, kemungkinan Vance maju sebagai kandidat presiden dinilai dapat memengaruhi langkah politik Rubio.
Menurut laporan tersebut, Rubio juga belakangan jarang berkomunikasi dengan para donatur dan jaringan politik yang selama ini mendukung kiprahnya. Kondisi itu memperkuat dugaan bahwa ia belum menjadikan pencalonan presiden sebagai prioritas.
Setelah lebih dari dua dekade berkarier di sektor publik, Rubio juga disebut berpeluang mempertimbangkan pekerjaan di sektor swasta yang menawarkan keuntungan finansial lebih besar.
Pilihan tersebut dapat menjadi alternatif dibandingkan mengikuti persaingan menuju Gedung Putih yang membutuhkan dukungan politik dan pendanaan besar.
Rubio diperkirakan perlu menentukan sikap paling lambat pada musim panas 2027 jika ingin mempertimbangkan pencalonan pada pemilu berikutnya. Namun, untuk saat ini, fokus utamanya masih pada pelaksanaan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Peluang JD Vance Menguat?
Laporan mengenai sikap Rubio sejalan dengan pemberitaan Associated Press pada awal Juli. Dengan mengutip para ajudannya, media tersebut melaporkan bahwa Rubio bersedia mundur dari persaingan internal Partai Republik apabila Vance memutuskan maju untuk memperebutkan nominasi presiden 2028.
Jika skenario itu terwujud, Vance berpotensi menghadapi persaingan yang lebih ringan dari salah satu tokoh penting Partai Republik tersebut. Meski demikian, belum ada keputusan final mengenai pencalonan Rubio maupun Vance berdasarkan informasi dalam laporan itu.
Trump sendiri dilaporkan telah menyampaikan kepada para donatur Partai Republik keinginannya agar Vance maju dalam pemilihan presiden berikutnya. Dukungan tersebut dapat menjadi modal politik bagi sang wakil presiden, meski proses penentuan kandidat partai tetap harus dilalui.
Pemilihan presiden 2028 akan menentukan pengganti Trump, yang tidak dapat mencalonkan diri untuk masa jabatan ketiga berdasarkan Amandemen ke-22 Konstitusi Amerika Serikat.
Dengan demikian, arah politik Rubio dalam beberapa bulan mendatang menjadi salah satu hal yang patut dicermati.
Jika ia benar-benar memilih tidak maju, perhatian persaingan internal Partai Republik berpotensi semakin tertuju pada langkah Vance dan tokoh lain yang ingin memperoleh nominasi partai.
Baca berita politik internasional lainnya di JurnalLugas.Com.
https://JurnalLugas.Com
(Handoko)






