JD Vance Harga Bensin AS Bisa Tiga Kali Lipat Jika Angkatan Laut Mundur dari Selat Hormuz

JurnalLugas.Com — Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance memperingatkan risiko lonjakan harga energi apabila Angkatan Laut AS mengurangi kehadirannya di kawasan Selat Hormuz.

Menurut dia, harga bensin yang saat ini dinilai terlalu tinggi berpotensi meningkat hingga tiga kali lipat jika jalur strategis perdagangan minyak dan gas tersebut tidak lagi dijaga oleh militer Amerika Serikat.

Bacaan Lainnya

Pernyataan itu disampaikan Vance dalam wawancara dengan CBS saat membahas konflik dengan Iran dan upaya Washington untuk mengakhiri ketegangan di kawasan tersebut.

Vance mengakui harga bensin di Amerika Serikat masih menjadi persoalan. Namun, ia berpendapat keberadaan Angkatan Laut AS berperan penting dalam menjaga kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz.

“Harga bensin memang terlalu tinggi. Namun, menurut Vance, harganya bisa mencapai tiga kali lipat jika Angkatan Laut AS tidak menjaga kelancaran arus minyak dan gas melalui Selat Hormuz,” demikian inti pernyataannya dalam wawancara tersebut.

Ia juga memperingatkan bahwa keputusan untuk meninggalkan kawasan itu dapat memicu kenaikan harga energi secara tajam.

Pernyataan Vance menempatkan Selat Hormuz sebagai salah satu titik penting dalam upaya menjaga stabilitas pasokan energi dunia.

Jalur laut tersebut menjadi lintasan strategis bagi perdagangan minyak dan gas, sehingga gangguan terhadap pelayaran dapat menimbulkan kekhawatiran di pasar energi internasional.

Meski demikian, perkiraan kenaikan harga bensin hingga tiga kali lipat yang disampaikan Vance merupakan pernyataannya dalam wawancara tersebut, bukan kepastian bahwa kenaikan sebesar itu akan terjadi.

Besarnya dampak terhadap harga energi bergantung pada berbagai faktor, termasuk kelancaran pelayaran, ketersediaan pasokan, serta respons pasar terhadap perkembangan konflik.

AS Ingin Akhiri Konflik dengan Iran

Dalam wawancara yang sama, Vance menjelaskan bahwa Washington memiliki dua sasaran utama dalam upaya mengakhiri konflik dengan Iran.

Tujuan pertama adalah memperoleh komitmen dari Teheran agar tidak berupaya memulihkan kapasitas pengayaan uraniumnya. Isu tersebut berkaitan dengan kekhawatiran Amerika Serikat terhadap kemampuan nuklir Iran.

Sasaran kedua adalah mencegah krisis energi global yang berpotensi muncul apabila Amerika Serikat mengurangi kehadiran militernya di kawasan Selat Hormuz.

Kedua tujuan itu menunjukkan bahwa pembahasan konflik tidak hanya berkaitan dengan persoalan keamanan dan program nuklir Iran. Kelancaran pasokan energi juga menjadi pertimbangan penting bagi Washington.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Dahlan)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Trump Ngotot Minta Iran Menyerah, Abbas Araghchi, Kami Siap Bertahan

Pos terkait