JurnalLugas.Com – Nama Purbaya Yudhi Sadewa ikut meramaikan percakapan politik menuju Pilpres 2029 setelah beredar meme yang memasangkannya dengan Dedi Mulyadi sebagai calon presiden dan wakil presiden. Namun, peluang Purbaya terjun ke kontestasi tersebut dinilai masih kecil.
Kepala Badan Komunikasi (Bakom) RI, Syahganda Nainggolan, meragukan Purbaya akan meninggalkan jalur profesionalnya untuk masuk ke persaingan politik nasional.
Menurut Syahganda, Purbaya lebih berpeluang melanjutkan kiprah di bidang ekonomi, bahkan mengajar, ketimbang mengejar posisi politik melalui pemilihan presiden.
“Enggak mungkinlah,” kata Syahganda saat menanggapi kemungkinan Purbaya maju pada Pilpres 2029. Ia juga menyinggung minat Purbaya pada kegiatan memancing dan kemungkinan dirinya menjadi dosen.
Pernyataan itu disampaikan Syahganda sebelum dilantik sebagai Kepala Bakom RI.
Elektabilitas Purbaya Pernah Masuk Empat Besar
Meski peluang pencalonannya diragukan Syahganda, nama Purbaya sebelumnya sempat mendapat perhatian dalam sejumlah survei politik.
Kinerja dan popularitasnya ikut membuat namanya diperhitungkan dalam pembicaraan mengenai kandidat potensial Pilpres 2029.
Survei Indeks Politika Indonesia pada Oktober 2025 menunjukkan Purbaya memiliki elektabilitas yang cukup kompetitif dalam penjajakan awal calon presiden.
Sementara itu, survei Indekstat Indonesia pada Februari 2026 menempatkan Purbaya di posisi keempat dalam simulasi 10 nama calon presiden potensial. Elektabilitasnya tercatat sebesar 4,9 persen.
Dalam survei yang sama, Prabowo Subianto berada di posisi teratas dengan 47,2 persen, disusul Dedi Mulyadi sebesar 17,8 persen dan Anies Baswedan dengan 11,2 persen.
Hasil tersebut menunjukkan nama Purbaya pernah masuk dalam peta persaingan awal menuju Pilpres 2029. Namun, angka elektabilitas dalam survei tidak serta-merta memastikan seseorang akan maju sebagai kandidat.
Beredarnya meme Dedi Mulyadi-Purbaya pun belum dapat dipandang sebagai tanda terbentuknya pasangan politik. Hingga ada pernyataan resmi dari pihak terkait, wacana tersebut tetap sebatas spekulasi di media sosial.
Sikap Syahganda memperlihatkan bahwa popularitas dan peluang elektoral bukan satu-satunya faktor dalam membaca kemungkinan pencalonan seseorang.
Keputusan untuk masuk ke arena pilpres juga bergantung pada pilihan pribadi, kesiapan politik, dan dinamika koalisi menjelang pemilu.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Catur)






