JurnalLugas.Com – Sikap Joko Widodo (Jokowi) yang kini menyebut Pemilu 2029 masih jauh, alih-alih kembali menyuarakan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dua periode, memunculkan dugaan adanya perhitungan politik baru.
Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, M. Jamiluddin Ritonga, menilai perubahan pernyataan mantan Presiden ke-7 RI itu dapat dibaca melalui dua kemungkinan. Keduanya berkaitan dengan posisi politik Gibran dan peluang kemenangan Prabowo pada Pilpres 2029.
Jamiluddin menyampaikan pandangan tersebut dalam keterangan yang diterima JurnalLugas.Com, Minggu (11/10/2026).
Menurut dia, kemungkinan pertama berkaitan dengan dampak putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terhadap reputasi dan kredibilitas Gibran. Kondisi tersebut dinilai dapat memengaruhi peluang Wakil Presiden itu dalam menghadapi persaingan politik mendatang.
“Reputasi dan kredibilitas menjadi modal politik untuk berkontestasi pada pilpres mendatang,” kata Jamiluddin.
Ia menilai Jokowi mungkin mulai memperhitungkan risiko politik yang dapat dihadapi putranya. Dalam situasi tersebut, mempertahankan posisi Gibran agar tidak sampai dimakzulkan dinilai lebih mendesak daripada mendorong pasangan Prabowo-Gibran kembali untuk dua periode.
Jamiluddin bahkan berpandangan Jokowi berpotensi menggunakan pengaruh politiknya untuk membangun komunikasi dengan para ketua umum partai, termasuk Prabowo, guna mencegah pemakzulan Gibran.
“Jangankan dua periode, Gibran tidak dimakzulkan saja sudah bagus,” ujarnya.
Jamiluddin, mempertahankan keberadaan Gibran dalam panggung politik merupakan bagian penting dari kepentingan politik keluarga Jokowi. Karena itu, mantan presiden tersebut diperkirakan akan memilih langkah yang dianggap paling aman bagi kelanjutan karier politik putranya.
Peluang Prabowo Jadi Penentu Langkah Gibran
Kemungkinan kedua, menurut Jamiluddin, berkaitan dengan kalkulasi Jokowi terhadap peluang Prabowo memenangkan Pilpres 2029.
Ia menduga Jokowi belum sepenuhnya yakin terhadap peluang kemenangan Prabowo pada kontestasi mendatang. Perubahan pernyataan dari dukungan dua periode menjadi penegasan bahwa pemilu masih jauh dinilai dapat memberikan ruang bagi Jokowi untuk menentukan langkah politik berikutnya.
Dengan sikap yang lebih terbuka, Gibran dinilai tidak harus bergantung pada Prabowo untuk kembali maju sebagai calon wakil presiden.
Jamiluddin memperkirakan Jokowi dapat mempertimbangkan Gibran sebagai calon presiden apabila peluang kemenangan Prabowo dinilai melemah menjelang pemilu. Dalam skenario tersebut, Gibran berpotensi dipasangkan dengan tokoh lain yang memiliki elektabilitas tinggi.
Sebaliknya, jika peluang Prabowo tetap kuat, Jokowi diperkirakan masih akan berupaya mempertahankan duet Prabowo-Gibran. Upaya itu dapat dilakukan melalui komunikasi politik dengan Prabowo dan pimpinan partai yang memiliki peran dalam menentukan pasangan calon.
“Jokowi ingin Gibran ikut pilpres semata atas kalkulasi politiknya,” jelas Jamiluddin.
Atas dasar itu, ia menilai pernyataan Jokowi mengenai pemilu yang masih jauh tidak serta-merta menunjukkan bahwa dukungan terhadap Prabowo-Gibran telah berakhir. Sikap tersebut justru dinilai memberikan keleluasaan untuk menyesuaikan strategi dengan perkembangan peta politik.
Meski demikian, pandangan tersebut merupakan analisis Jamiluddin terhadap kemungkinan langkah politik Jokowi, bukan kepastian mengenai keputusan yang akan diambil menjelang Pilpres 2029.
Sebelumnya, Jokowi menanggapi isu pemakzulan Gibran dengan menekankan bahwa setiap proses politik harus mengikuti aturan konstitusi dan mekanisme demokrasi yang berlaku.
“Silakan ikuti mekanisme demokrasi yang tersedia yang sesuai dengan konstitusi, sesuai dengan aturan hukum yang ada,” kata Jokowi.
Saat ditanya mengenai peluang Gibran maju pada Pilpres 2029, Jokowi juga mengingatkan bahwa keputusan terkait proses pemilu berada dalam kewenangan lembaga yang berwenang, termasuk Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).
“Semua ada mekanismenya, ada lembaga yang memiliki kewenangan itu,” ujarnya.
Adapun mengenai kemungkinan Prabowo-Gibran kembali berpasangan untuk dua periode, Jokowi hanya menyatakan bahwa pemilu masih jauh.
Pernyataan tersebut kini menjadi perhatian karena membuka ruang penafsiran mengenai arah dukungan politik Jokowi.
Namun, kepastian mengenai posisi Gibran pada Pilpres 2029 tetap bergantung pada perkembangan politik, keputusan partai, serta mekanisme pencalonan yang berlaku.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Soefriyanto news)






