JurnalLugas.Com – Konflik bersenjata di Yaman kembali meningkat setelah pasukan pemerintah mengklaim melancarkan lebih dari 1.900 serangan terhadap kelompok Houthi dalam 24 jam. Operasi yang diumumkan pada Sabtu (10/10) itu disebut menewaskan atau melumpuhkan lebih dari 1.150 petempur Houthi.
Juru bicara pasukan pemerintah Yaman, Majed al-Nuzaili, menyampaikan bahwa serangan menyasar berbagai fasilitas dan posisi militer kelompok tersebut di sejumlah garis depan.
Dalam keterangannya melalui platform media sosial X, Al-Nuzaili menyebut target operasi mencakup gudang senjata, kamp militer, benteng pertahanan, posisi artileri, konsentrasi pasukan, hingga jalur distribusi logistik.
Serangan juga disebut menjangkau target militer bernilai tinggi di wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk front timur, barat, dan barat daya Yaman.
Al-Nuzaili menambahkan, lebih dari 180 kendaraan militer dan logistik dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan. Menurut dia, operasi tersebut ditujukan untuk menghambat kemampuan Houthi memperkuat pasukan dan mempertahankan posisi di medan pertempuran.
Meski demikian, angka korban dan kerusakan yang disampaikan pihak pemerintah belum dapat diverifikasi secara independen. Kelompok Houthi juga belum memberikan tanggapan atas klaim tersebut.
Pertempuran Meluas ke Kawasan Bab al-Mandab
Pemerintah Yaman memulai operasi militer berskala besar pada Senin (5/10) untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi. Salah satu kawasan yang menjadi pusat pertempuran adalah sekitar Selat Bab al-Mandab di barat daya Yaman.
Selat tersebut memiliki posisi strategis dalam jalur pelayaran internasional yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden. Peningkatan pertempuran di kawasan ini berpotensi menambah perhatian terhadap keamanan jalur perdagangan maritim.
Di sisi lain, operasi udara Arab Saudi untuk mendukung pasukan pemerintah Yaman dilaporkan semakin intensif. Kelompok Houthi merespons dengan meningkatkan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi.
Salah satu sasaran yang disebut dalam laporan tersebut adalah Bandar Udara Internasional King Khalid di Riyadh. Namun, rincian mengenai dampak serangan itu tidak dijelaskan lebih lanjut dalam informasi yang tersedia.
Konflik Yaman Berlangsung Sejak 2014
Perang di Yaman berakar pada perebutan kekuasaan yang meningkat pada akhir 2014, ketika kelompok Houthi menguasai ibu kota Sanaa dan sebagian besar wilayah utara negara tersebut.
Pada 2015, koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi militer untuk mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Pemerintahan tersebut kemudian berkedudukan di Aden, kota pelabuhan di wilayah selatan.
Konflik berkepanjangan telah membuat situasi keamanan Yaman terus bergejolak. Operasi militer terbaru, peningkatan serangan udara, serta penggunaan rudal dan drone menunjukkan bahwa perseteruan antara pemerintah dan Houthi kembali memasuki fase pertempuran yang lebih intensif.
Hingga laporan ini disusun, klaim mengenai jumlah petempur yang dilumpuhkan dan kerusakan peralatan militer masih menunggu verifikasi independen. Belum ada tanggapan dari pihak Houthi mengenai laporan operasi tersebut.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Handoko)






