Iran Tegaskan Siap Perang Hadapi AS, Armada Militer Amerika Bergerak ke Timur Tengah

JurnalLugas.Com – Pemerintah Iran menyatakan berada dalam kondisi kesiapsiagaan tertinggi untuk menghadapi kemungkinan serangan militer, menyusul meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat pasca gelombang protes besar yang melanda negara tersebut.

Dalam konferensi pers mingguan di Teheran, Senin (26/1/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut situasi yang dihadapi negaranya saat ini sebagai bentuk perang hibrida. Istilah itu merujuk pada kombinasi tekanan politik, ancaman militer, serta eskalasi konflik sosial yang, menurut Teheran, dipicu oleh campur tangan asing.

Bacaan Lainnya

Baghaei mengaitkan kondisi terkini dengan konflik bersenjata selama hampir dua pekan pada Juni lalu, serta aksi demonstrasi terbaru yang berujung kerusuhan. Ia menuding Amerika Serikat dan Israel berada di balik upaya destabilisasi tersebut.

“Ancaman dan tuduhan tanpa dasar terus dilontarkan, termasuk dari pernyataan pejabat tinggi AS dan pergerakan kekuatan militer di kawasan Teluk Persia,” ujar Baghaei, tanpa menyebutkan detail teknis.

Iran Ingatkan Dampak Regional

Iran juga menilai bahwa negara-negara di kawasan Timur Tengah memahami risiko serius dari eskalasi konflik. Menurut Baghaei, ketidakstabilan tidak akan berhenti di satu negara saja, melainkan berpotensi menyebar ke wilayah lain.

Baca Juga  Elon Musk UU Pajak Trump Seret Amerika ke Jurang Perbudakan Utang

Ia menyampaikan kekhawatiran bersama negara-negara tetangga Iran terkait konsekuensi jika Amerika Serikat benar-benar melancarkan operasi militer. Karena itu, Teheran mendorong negara kawasan untuk mengambil sikap tegas terhadap ancaman yang dinilai dapat memicu konflik luas.

“Mengandalkan kekuatan domestik dan pengalaman masa lalu, Iran berada dalam posisi paling siap sepanjang sejarahnya. Setiap agresi akan dibalas secara menyeluruh dan tegas,” tegas Baghaei.

Protes Berdarah dan Pernyataan Trump

Ketegangan antara Teheran dan Washington meningkat tajam setelah aksi protes di sejumlah wilayah Iran berubah menjadi bentrokan keras. Pemerintah Iran menyebut lebih dari 3.000 orang tewas akibat kerusuhan tersebut.

Di tengah situasi itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan keras. Ia memperingatkan bahwa Washington tidak akan tinggal diam jika aparat Iran menggunakan kekuatan mematikan terhadap demonstran.

Beberapa hari berselang, Trump bahkan secara terbuka mendorong para pengunjuk rasa untuk terus menekan pemerintah dan mengambil alih institusi negara, seraya menyebut bahwa bantuan dari pihak luar sedang disiapkan.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras di Iran dan ditafsirkan sebagai sinyal dukungan terhadap perubahan kepemimpinan, yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai ancaman langsung terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Baca Juga  Hassan Nasrallah Hizbullah Bersama Iran Serang Israel Teheran Tunggu Opsi

Armada AS Menuju Timur Tengah

Situasi semakin memanas setelah Trump mengumumkan pengiriman armada militer Amerika ke kawasan Timur Tengah. Ia mengonfirmasi bahwa kapal induk USS Abraham Lincoln, bersama sejumlah kapal perusak berpeluru kendali, dijadwalkan tiba di wilayah tersebut dalam waktu dekat.

Langkah itu langsung memicu peringatan keras dari jajaran politik dan militer Iran. Mereka menegaskan bahwa setiap serangan terhadap wilayah Iran akan direspons dengan kekuatan penuh.

Ketegangan ini kembali menempatkan Timur Tengah dalam bayang-bayang konflik terbuka, di tengah kekhawatiran global akan dampak geopolitik dan kemanusiaan yang lebih luas.

Baca berita nasional dan internasional lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait