Israel Gempur Lebanon Selatan, Bos Zionis Netanyahu Targetkan Zona Penyangga hingga Sungai Litani

JurnalLugas.Com — Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara resmi menginstruksikan perluasan operasi militer di wilayah selatan Lebanon. Kebijakan ini diambil di tengah meningkatnya ketegangan kawasan yang melibatkan aliansi Amerika Serikat–Israel berhadapan dengan Iran.

Langkah strategis tersebut difokuskan untuk memperluas zona penyangga keamanan di sepanjang perbatasan utara Israel. Pemerintah Israel menilai kondisi keamanan saat ini memerlukan pendekatan yang lebih agresif guna mencegah ancaman lanjutan.

Bacaan Lainnya

Dalam pernyataan resminya, Netanyahu menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan mengubah peta keamanan secara fundamental.
“Kami telah memerintahkan perluasan zona penyangga dan bertekad mengubah situasi di utara secara menyeluruh,” ujarnya, Senin 30 Maret 2026.

Pasukan Israel Bergerak ke Sungai Litani

Operasi militer ini ditandai dengan pergerakan pasukan darat Israel menuju Sungai Litani, wilayah strategis yang selama ini menjadi basis kekuatan Hezbollah.

Perkembangan ini dipicu oleh eskalasi konflik yang meningkat sejak awal Maret, menyusul serangan balasan Hezbollah pasca terbunuhnya tokoh penting Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Laporan dari lapangan menyebutkan bahwa pasukan Israel telah mencapai anak sungai di sekitar al-Muhaysibat, hanya beberapa ratus meter dari Sungai Litani. Situasi ini diprediksi menjadi titik krusial dalam konflik.

Baca Juga  Netanyahu Keracunan saat Disidang Trump Sakit Kronis Tumbang Bersamaan

Seorang koresponden lapangan, Obaida Hitto, menggambarkan situasi yang semakin intens.
“Pergerakan ini menandai potensi pertempuran besar dalam waktu dekat,” ujarnya singkat.

Krisis Kemanusiaan Kian Memburuk

Di tengah eskalasi militer, kondisi kemanusiaan di Lebanon terus mengalami penurunan drastis. Data otoritas kesehatan setempat menunjukkan lebih dari 1.200 korban jiwa sejak konflik meluas pada awal Maret, termasuk ratusan anak-anak.

Selain itu, laporan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa mencatat lebih dari 1,2 juta warga sipil terpaksa mengungsi akibat serangan yang terus berlangsung tanpa jeda.

Situasi ini mempertegas kekhawatiran komunitas internasional terhadap dampak jangka panjang konflik terhadap stabilitas regional dan keselamatan warga sipil.

Jurnalis dan Pasukan PBB Jadi Korban

Ketegangan juga berdampak pada keselamatan jurnalis dan personel penjaga perdamaian. Serangan udara di kota Jezzine dilaporkan menewaskan tiga jurnalis yang tengah menjalankan tugas peliputan.

Insiden ini memicu kecaman keras dari pemerintah Prancis. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, menegaskan pentingnya perlindungan terhadap pekerja media di zona konflik.
“Jika terbukti ada unsur kesengajaan, maka ini merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional,” ujarnya.

Baca Juga  Trump Klaim Iran Lumpuh, AS Kalah Segera Angkat Kaki dalam Waktu Dekat

Di sisi lain, UNIFIL melaporkan satu personel penjaga perdamaian tewas akibat ledakan proyektil di wilayah Adchit Al Qusayr. Pihak UNIFIL menyatakan investigasi sedang berlangsung untuk mengungkap sumber serangan tersebut.

Pelanggaran Hukum Internasional Meningkat

Organisasi Committee to Protect Journalists mencatat adanya peningkatan signifikan pelanggaran terhadap hukum internasional, terutama terkait perlindungan jurnalis dan warga sipil.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa konflik di kawasan Timur Tengah semakin kompleks dan berisiko meluas. Tanpa upaya deeskalasi yang serius, dampak kemanusiaan diperkirakan akan terus bertambah.

Konflik yang terus memanas antara Israel, Lebanon, dan aktor regional lainnya menjadi perhatian global. Dunia internasional kini dihadapkan pada tantangan besar untuk meredam eskalasi sekaligus memastikan perlindungan terhadap warga sipil di tengah situasi yang semakin tidak menentu.

Baca berita selengkapnya di JurnalLugas.Com

(ED)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait