JurnalLugas.Com – Pernyataan keras dilontarkan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, yang menuding pemerintah Amerika Serikat tidak transparan dalam mengungkap biaya konflik militer terbaru di Timur Tengah. Ia menyebut angka resmi yang disampaikan Washington jauh dari realitas sebenarnya.
Melalui pernyataan publik di platform X, Araghchi menilai laporan Pentagon telah “menyesatkan” publik global. Ia mengklaim total biaya perang yang ditanggung Amerika Serikat telah membengkak hingga sekitar 100 miliar dolar AS—angka yang menurutnya empat kali lipat lebih besar dari klaim resmi.
“Perhitungan yang disampaikan tidak mencerminkan beban nyata. Biaya yang ditanggung publik Amerika jauh lebih besar dari yang diakui,” tulisnya singkat.
Biaya Tak Langsung Dinilai Lebih Membebani
Lebih jauh, Araghchi menyoroti dampak ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat Amerika. Ia menyebut setiap rumah tangga di AS kini menanggung beban tambahan hingga 500 dolar AS per bulan akibat eskalasi konflik tersebut.
Menurutnya, angka itu belum termasuk biaya tidak langsung seperti gangguan rantai pasok energi global dan lonjakan harga komoditas. Ia juga menyindir kebijakan luar negeri Washington yang dinilai terlalu berpihak pada Israel.
Dalam kritiknya, Araghchi menyebut pendekatan “Israel First” justru berdampak pada kepentingan domestik Amerika sendiri.
Versi Pentagon, Jauh Lebih Rendah
Di sisi lain, pejabat Pentagon, Jules Hurst, dalam kesaksiannya di Kongres menyatakan bahwa operasi militer bertajuk Operation Epic Fury hanya menelan biaya sekitar 25 miliar dolar AS hingga saat ini.
Perbedaan mencolok antara klaim Iran dan laporan resmi AS ini memicu perdebatan tajam, tidak hanya di kalangan pengamat militer, tetapi juga ekonom global yang memantau dampak konflik terhadap stabilitas pasar.
Konflik yang Memicu Ketegangan Kawasan
Ketegangan bermula saat Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran pada 28 Februari. Langkah tersebut memicu respons cepat dari Teheran, termasuk serangan balasan terhadap sekutu AS di kawasan Teluk.
Situasi semakin kompleks setelah Iran sempat menutup Selat Hormuz jalur vital perdagangan energi dunia yang langsung mengguncang pasar minyak global.
Upaya meredakan konflik dilakukan melalui mediasi Pakistan. Gencatan senjata diumumkan pada 8 April dan dilanjutkan dengan perundingan di Islamabad beberapa hari kemudian. Namun, negosiasi panjang itu berakhir tanpa kesepakatan konkret.
Gencatan Senjata Tanpa Kepastian
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kemudian mengambil langkah sepihak dengan memperpanjang masa gencatan senjata. Keputusan itu diambil tanpa batas waktu yang jelas, atas permintaan Pakistan sebagai mediator.
Langkah tersebut dinilai sebagian analis sebagai upaya menahan eskalasi lebih lanjut, meski di sisi lain menunjukkan belum adanya solusi diplomatik yang solid.
Ketidakpastian Masih Membayangi
Hingga kini, perbedaan narasi antara Teheran dan Washington mencerminkan kompleksitas konflik yang belum menemukan titik terang. Selain soal biaya, isu transparansi, kepentingan geopolitik, dan dampak ekonomi global menjadi sorotan utama.
Jika tidak segera menemukan titik temu, konflik ini berpotensi memperpanjang ketidakstabilan kawasan sekaligus meningkatkan tekanan ekonomi global terutama bagi negara-negara yang bergantung pada jalur energi Timur Tengah.
Baca berita eksklusif lainnya di: https://JurnalLugas.Com
(HD)






