JurnalLugas.Com — Harga minyak dunia mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan tipis setelah sempat merosot lebih dari 10% dalam dua hari terakhir. Kenaikan ini terjadi seiring ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mulai mereda, menyusul kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Israel yang dimediasi langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pada perdagangan awal di kawasan Asia, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik 1,1% menjadi US\$65,09 per barel. Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup melemah lebih dari 6% pada Rabu, 25 Juni 2025.
Trump Longgarkan Tekanan, China Bebas Beli Minyak Iran
Sinyal positif datang dari Gedung Putih, setelah Presiden Trump memberikan izin tidak resmi kepada China untuk tetap membeli minyak mentah dari Iran. Langkah ini disebut-sebut sebagai bagian dari strategi memperkuat kesepakatan gencatan senjata antara Teheran dan Tel Aviv. Kebijakan ini sekaligus menjadi titik balik dari tekanan sanksi AS terhadap Iran yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Menurut pengamat energi dari Middle East Policy Institute, Farid Al-Mansoor, keputusan Trump adalah “langkah politis yang mengedepankan stabilitas kawasan ketimbang sanksi ekonomi semata.”
Cadangan Minyak AS Turun, Pasar Kembali Waspada
Dari sisi fundamental, laporan American Petroleum Institute (API) menunjukkan bahwa cadangan minyak mentah AS turun sekitar 4,3 juta barel dalam sepekan terakhir. Penurunan ini menyusul rilis sebelumnya yang menunjukkan penurunan drastis lebih dari 11 juta barel. Data resmi dari Energy Information Administration (EIA) dijadwalkan akan dirilis pada Rabu sore waktu Washington.
Penurunan cadangan ini mendorong ekspektasi bahwa permintaan di AS tetap solid meski harga global sempat tertekan oleh dinamika geopolitik.
Prediksi Harga Minyak: Berpotensi Naik Terbatas
Para analis memperkirakan harga minyak dunia berpotensi rebound secara bertahap dalam beberapa pekan mendatang, namun dalam rentang terbatas. Ketidakpastian tetap tinggi seiring masih rapuhnya gencatan senjata dan potensi pembalikan sikap dari Washington.
“Jika kesepakatan damai ini bertahan lebih dari sebulan dan China terus mengimpor minyak Iran, kita mungkin melihat harga Brent stabil di kisaran US\$68–70 per barel,” ujar analis komoditas dari EnergyWatch Global, Nina Carlsen.
Namun, bila situasi kembali memanas atau ada serangan balasan dari kelompok proksi di kawasan Timur Tengah, harga minyak dapat melonjak tajam dalam waktu singkat.
Untuk berita politik, ekonomi, dan dunia terkini lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.






