JurnalLugas.Com — Kekerasan kembali terjadi di Haiti. Sekitar 12 orang dilaporkan tewas dalam serangan yang dilakukan geng Kokorat San Ras di wilayah Gros-Morne, Haiti utara, setelah operasi pasukan internasional digelar di kawasan tersebut.
Laporan Nouvelliste, Senin 28 September 2026, menyebut serangan terjadi setelah kontingen Pasukan Penumpas Geng (GSF) multinasional melakukan operasi di wilayah Gros-Morne.
Dalam operasi itu, tiga orang yang diduga anggota geng dilaporkan mengalami luka tembak. Informasi tersebut disampaikan sumber setempat kepada media tersebut.
Serangan susulan memperlihatkan masih kuatnya ancaman kelompok bersenjata di Haiti, meski pasukan internasional telah dikerahkan untuk membantu menghadapi kekerasan geng.
Haiti telah menghadapi krisis politik dan keamanan berkepanjangan sejak Presiden Jovenel Moise dibunuh pada Juli 2021. Lemahnya institusi negara kemudian membuat kelompok bersenjata memperluas pengaruhnya.
Sejumlah wilayah strategis, termasuk kawasan ibu kota dan terminal bahan bakar, berada dalam kendali geng bersenjata.
GSF mulai dikerahkan pada Mei dan kini memiliki lebih dari 1.000 personel. Jumlah tersebut ditargetkan meningkat hingga 5.500 personel pada Desember.
Namun, operasi melawan geng menghadapi tantangan besar, terutama di kawasan pedesaan dan pegunungan.
Analis dari Global Initiative Against Transnational Organized Crime (GI-TOC) menilai kepolisian Haiti masih menghadapi keterbatasan pelatihan untuk menjalankan operasi di medan seperti itu.
Kondisi tersebut membuat perluasan kekerasan geng ke luar kawasan perkotaan menjadi persoalan serius. Serangan di Gros-Morne menunjukkan bahwa ancaman keamanan Haiti tidak hanya terkonsentrasi di pusat-pusat kota, tetapi juga mulai menjangkau wilayah lain.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Handoko)






