JurnalLugas.Com – Mutasi perwira tinggi TNI pada awal Oktober 2026 membawa perubahan pada posisi empat jenderal yang memiliki rekam jejak di lingkungan kepresidenan Joko Widodo.
Mereka adalah Letjen TNI Mohammad Fadjar, Letjen TNI Tri Budi Utomo, Mayjen TNI Rudy Saladin, dan Mayjen TNI Achiruddin Darojat.
Keempatnya pernah menjalankan tugas yang berkaitan dengan pendampingan atau pengamanan Presiden ke-7 RI tersebut. Kini, mereka menempati posisi berbeda dalam struktur TNI dan Kementerian Pertahanan.
Perubahan ini menarik dicermati karena menyentuh sejumlah jabatan penting, mulai dari pimpinan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) hingga Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad).
Namun, pengalaman mereka saat bertugas bersama Jokowi tidak dengan sendirinya menjelaskan alasan di balik mutasi. Pergantian jabatan tersebut perlu dilihat berdasarkan penugasan dan kebutuhan organisasi militer.
Dari Pangkostrad hingga Wakasad
Letjen TNI Mohammad Fadjar menjadi salah satu perwira yang mengalami pergeseran posisi. Sebelumnya, ia menjabat Panglima Kostrad, salah satu jabatan strategis di lingkungan TNI AD.
Dalam mutasi terbaru, Fadjar ditempatkan sebagai Staf Khusus Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD). Penugasan itu disebut bersifat sementara karena ia sedang mengikuti proses seleksi untuk mengisi posisi pejabat utama di kementerian atau lembaga negara.
Fadjar merupakan lulusan Akademi Militer 1993. Ia pernah menjadi ajudan Jokowi pada 2015–2016 sebelum melanjutkan karier di sejumlah posisi strategis militer dan pemerintahan.
Sementara itu, Letjen TNI Tri Budi Utomo memperoleh penugasan sebagai Wakasad. Sebelum ditunjuk menduduki jabatan tersebut, ia menjabat Sekretaris Jenderal Kementerian Pertahanan.
Tri Budi memiliki pengalaman dalam pengamanan presiden ketika bertugas sebagai Komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pada 2018–2019. Ia kemudian menduduki sejumlah posisi komando hingga dipercaya memimpin jajaran Paspampres.
Penunjukannya sebagai Wakasad menempatkan Tri Budi dalam jajaran pimpinan utama TNI AD. Ia menggantikan Letjen TNI Muhammad Saleh Mustafa, yang mendapat penugasan sebagai Wakil Menteri Pertanian.
Rudy Saladin dan Achiruddin Darojat Juga Bergeser
Perubahan jabatan turut dialami Mayjen TNI Rudy Saladin. Perwira lulusan Akademi Militer 1997 itu sebelumnya menjabat Pangdam V/Brawijaya.
Rudy kini ditugaskan sebagai Wakil Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI (Wadansesko TNI). Sebelum memimpin Kodam V/Brawijaya, ia pernah menjadi ajudan Jokowi pada 2019–2021 dan menjabat Sekretaris Militer Presiden.
Pengalaman tersebut membuat Rudy pernah menjalankan tugas di lingkungan kepresidenan sekaligus menduduki jabatan komando di tubuh TNI AD.
Adapun Mayjen TNI Achiruddin Darojat yang sebelumnya menjabat Pangdam IV/Diponegoro kini ditugaskan sebagai Wakil Asisten Teritorial Panglima TNI (Wakaster TNI).
Achiruddin merupakan lulusan Akademi Militer 1997 dari kecabangan Infanteri. Ia juga pernah menjadi Komandan Paspampres sebelum memperoleh penugasan sebagai Pangdam IV/Diponegoro pada Mei 2025.
Peralihan jabatan tersebut menambah daftar perubahan kepemimpinan di sejumlah satuan dan posisi strategis TNI. Posisi Pangdam V/Brawijaya selanjutnya dipercayakan kepada Mayjen TNI Piek Budyakto, sedangkan Pangdam IV/Diponegoro dipercayakan kepada Mayjen TNI Sudaryanto.
KSAD, Pergantian Jabatan Hal Biasa
Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak membenarkan adanya surat mutasi pada awal Oktober 2026.
Saat memberikan keterangan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (7/10/2026), Maruli menjelaskan bahwa surat pergantian jabatan baru diterbitkan.
Ia menyebut pergantian tersebut sebagai bagian dari dinamika organisasi.
“Penataan personel merupakan hal yang lazim dilakukan untuk menyesuaikan kebutuhan penugasan di lingkungan TNI,” jelas Maruli.
Keterangan tersebut menjadi penting di tengah perhatian publik terhadap latar belakang keempat jenderal yang pernah bertugas di lingkungan Jokowi.
Meski rekam jejak mereka memiliki keterkaitan dengan mantan presiden, tidak ada dasar untuk langsung menyimpulkan bahwa mutasi tersebut dilatarbelakangi pertimbangan politik.
Penilaian mengenai alasan penempatan masing-masing perwira harus bertumpu pada keterangan resmi dan keputusan institusi.
Perubahan jabatan empat jenderal ini memperlihatkan pergeseran tanggung jawab di sejumlah posisi penting militer.
Hal yang patut dicermati bukan hanya siapa yang pernah mendampingi Jokowi, melainkan juga bagaimana para perwira tersebut menjalankan tugas baru dalam struktur pertahanan negara.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Soefriyanto news)






