JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuka peluang bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un saat melakukan perjalanan ke Asia pada pertengahan November 2026. Jika terealisasi, pertemuan tersebut akan menghidupkan kembali diplomasi tingkat tinggi yang sebelumnya belum menghasilkan kesepakatan nuklir.
Trump menyampaikan kemungkinan itu ketika ditanya wartawan di Gedung Putih, Senin, 12 Oktober 2026. Ia mengaku masih memiliki hubungan baik dengan pemimpin Korea Utara tersebut.
“Mungkin saja. Itu akan menarik, bukan? Saya memiliki hubungan yang baik dengannya,” kata Trump.
Dalam agenda perjalanan Asia tersebut, Trump dijadwalkan mengunjungi China untuk menghadiri forum ekonomi regional. Ia juga berpeluang melakukan perjalanan ke Filipina, yang menjadi tuan rumah sejumlah pertemuan ASEAN bersama negara-negara mitranya.
Meski belum memastikan jadwal pertemuan dengan Kim, Trump sebelumnya beberapa kali menyatakan keinginannya untuk kembali bertatap muka dengan pemimpin Korea Utara itu. Pada Agustus lalu, ia bahkan mengatakan memperkirakan pertemuan tersebut dapat berlangsung sebelum akhir tahun.
Trump dan Kim terakhir kali membangun komunikasi langsung melalui tiga pertemuan selama masa jabatan pertama Trump. Pertemuan bersejarah pertama berlangsung di Singapura pada 2018, ketika Trump menjadi presiden AS pertama yang sedang menjabat dan bertemu langsung dengan pemimpin Korea Utara.
Kedua pemimpin saat itu sepakat mengupayakan denuklirisasi penuh di Semenanjung Korea. Namun, dua pertemuan berikutnya pada 2019 tidak menghasilkan kesepakatan yang dapat menyelesaikan persoalan nuklir secara menyeluruh.
Setelah perundingan tersebut menemui jalan buntu, Korea Utara terus mengembangkan kemampuan rudal dan nuklirnya. Kondisi ini membuat kemungkinan pertemuan baru Trump dan Kim kembali menjadi perhatian dalam hubungan keamanan kawasan Asia Timur.
Trump sebelumnya juga mengungkapkan keinginan bertemu Kim ketika melakukan perjalanan ke Asia pada masa jabatan keduanya sekitar setahun lalu. Namun, keinginan tersebut belum terwujud dalam pertemuan langsung.
Jika pertemuan November nanti benar-benar terlaksana, perhatian utama akan tertuju pada kemungkinan pembukaan kembali dialog nuklir dan arah hubungan Washington dengan Pyongyang. Hingga pernyataan Trump pada Senin, belum ada kepastian mengenai waktu, tempat, maupun agenda resmi pertemuan tersebut.
Pernyataan Trump sejauh ini baru menunjukkan adanya peluang, bukan konfirmasi bahwa pertemuan dengan Kim Jong Un sudah disepakati kedua pihak.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Dahlan)






