JurnalLugas.Com – Iran berupaya mencegah pecahnya konflik baru dengan Amerika Serikat (AS) melalui jalur diplomasi. Namun, Teheran menegaskan tetap menyiapkan diri menghadapi kemungkinan konfrontasi militer jika ketegangan kedua negara kembali meningkat.
Sikap tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Saeed Khatibzadeh dalam wawancara dengan stasiun televisi Al-Jadeed pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Menurut Khatibzadeh, upaya diplomatik yang ditempuh Iran, termasuk melalui para mediator, diarahkan untuk mencegah perang. Meski demikian, pemerintah Iran menyatakan tidak mengesampingkan kemungkinan terjadinya bentrokan bersenjata.
“Diplomasi tetap menjadi upaya utama untuk mencegah perang, tetapi Iran siap menghadapi berbagai skenario jika konfrontasi militer dengan AS kembali terjadi,” kata Khatibzadeh.
Ia juga memperingatkan bahwa Iran akan mengambil langkah untuk memperkuat posisinya di kawasan apabila kembali mendapat serangan.
Pernyataan itu memperlihatkan dua pendekatan yang berjalan bersamaan, yakni membuka ruang penyelesaian melalui diplomasi sekaligus mempertahankan kesiapan menghadapi kemungkinan eskalasi militer.
Selain hubungan dengan Washington, Khatibzadeh turut menyoroti situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang berperan penting dalam distribusi energi dunia.
Ia menuding Amerika Serikat memanfaatkan situasi di perairan tersebut sebagai instrumen dalam konfrontasi dengan Iran. Menurutnya, kondisi di sekitar selat dapat ditata kembali apabila ancaman yang ada berhasil dihilangkan.
Selat Hormuz memiliki arti penting bagi pasar energi internasional karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG). Gangguan terhadap pelayaran di kawasan ini berpotensi memengaruhi kelancaran perdagangan energi dan meningkatkan risiko bagi rantai pasok global.
Karena itu, ketegangan antara Iran dan AS tidak hanya menjadi persoalan bilateral. Perkembangan di kawasan tersebut juga berkaitan dengan keamanan pelayaran internasional serta stabilitas pasokan energi ke berbagai negara.
Ancaman terhadap kebebasan navigasi dapat menambah ketidakpastian bagi pelaku perdagangan dan pasar energi, terutama apabila ketegangan berkembang menjadi gangguan nyata terhadap aktivitas pelayaran.
Dalam wawancara yang sama, Khatibzadeh turut membahas situasi Lebanon dan hubungan negara tersebut dengan kelompok Hizbullah.
Ia menegaskan bahwa Hizbullah mengambil keputusan sendiri, termasuk mengenai kemungkinan melanjutkan permusuhan dengan Israel. Teheran, menurut dia, menghormati kedaulatan Lebanon dan tidak mencampuri urusan dalam negeri negara itu.
Pernyataan tersebut menempatkan persoalan Lebanon sebagai isu lain yang perlu diperhatikan di tengah ketegangan regional. Perkembangan hubungan Iran-AS, situasi di Selat Hormuz, serta dinamika Lebanon dan Israel sama-sama menjadi bagian dari lanskap keamanan Timur Tengah.
Untuk saat ini, Iran menyatakan masih mengutamakan upaya diplomatik guna mencegah konflik baru dengan Washington. Namun, kesiapan menghadapi konfrontasi militer tetap menjadi bagian dari sikap yang disampaikan pemerintah Teheran.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada dinamika hubungan kedua negara, jalur komunikasi diplomatik, dan situasi keamanan di kawasan yang memiliki peran penting bagi perdagangan energi dunia.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Handoko)






