JurnalLugas.Com – KFC di Amerika Serikat (AS) mengakhiri kemitraan minuman dengan PepsiCo yang telah berlangsung sekitar empat dekade.
Jaringan restoran cepat saji itu menunjuk Coca-Cola sebagai pemasok minuman baru untuk seluruh gerainya di pasar AS, dengan produk dijadwalkan mulai tersedia pada musim semi 2027.
Peralihan ini melibatkan 3.718 gerai KFC di Amerika Serikat. Nilai kesepakatan antara KFC dan Coca-Cola belum diungkapkan ke publik.
Keputusan tersebut menandai perubahan hubungan bisnis yang telah terjalin sejak PepsiCo mengakuisisi KFC untuk memperluas usahanya ke sektor makanan.
Meski PepsiCo melepas KFC pada 1997, perusahaan itu tetap memasok minuman bagi sejumlah jaringan restoran di bawah Yum Brands, termasuk KFC.
Namun, perubahan terbaru ini hanya berlaku untuk KFC di Amerika Serikat. Kemitraan PepsiCo dengan KFC di pasar internasional tetap berlanjut.
PepsiCo Tetap Pasok Taco Bell dan KFC Internasional
Juru bicara PepsiCo menyebut perusahaan baru saja memperpanjang kerja sama dengan Yum Brands untuk memasok minuman ke Taco Bell dan gerai KFC di luar Amerika Serikat. Kontrak untuk Taco Bell disebut berlaku selama 10 tahun.
PepsiCo juga masih memasok minuman bagi jaringan restoran sandwich Subway dan Jersey Mike’s Subs. Perusahaan tersebut turut mengelola dispenser soda di Pizza Hut, yang pada tahun ini telah keluar dari naungan Yum Brands.
Sementara itu, Coca-Cola sudah memiliki kemitraan dengan sejumlah jaringan restoran besar di AS, termasuk McDonald’s dan Wendy’s.
Masuknya Coca-Cola ke KFC AS memperluas jangkauan bisnis restoran perusahaan minuman tersebut. Bagi PepsiCo, kehilangan salah satu jaringan restoran besar di pasar domestiknya menjadi tantangan tambahan di tengah upaya memperbaiki kinerja penjualan.
Tekanan Bisnis PepsiCo
Perubahan mitra minuman KFC terjadi ketika PepsiCo menghadapi sejumlah tantangan di Amerika Serikat. Penjualan minuman soda perusahaan itu tengah diupayakan untuk kembali tumbuh, sementara bisnis makanan ringan mendapat tekanan akibat harga tinggi dan perubahan preferensi konsumen menuju produk yang dianggap lebih sehat.
Kenaikan biaya juga menjadi perhatian CEO PepsiCo, Ramon Laguarta. Pada awal bulan ini, ia menyampaikan bahwa pemulihan pertumbuhan dan margin perusahaan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan target sebelumnya.
Di sisi lain, investor aktivis Elliott Investment Management turut menekan PepsiCo untuk memperbaiki kinerja bisnisnya.
Elliott, yang mengungkapkan kepemilikan sahamnya pada tahun lalu, mendorong perusahaan menjual aset yang berkinerja buruk dan membenahi operasional di Amerika Utara.
Situasi tersebut membuat berakhirnya kerja sama dengan KFC AS menjadi perhatian investor. Meski nilai kontraknya tidak diumumkan, perubahan ini memperlihatkan pergeseran kemitraan di salah satu pasar penting bagi industri minuman dan restoran cepat saji.
Jay Woods, kepala strategi pasar Freedom Capital Markets yang memiliki saham Coca-Cola, menilai perubahan tersebut memberikan sinyal negatif bagi PepsiCo.
Kerja sama baru ini membuka peluang memperluas distribusi produknya melalui ribuan gerai KFC di Amerika Serikat.
Sebaliknya, PepsiCo perlu menghadapi berakhirnya kemitraan tersebut di tengah upaya meningkatkan pertumbuhan penjualan dan memperbaiki margin bisnis.
Peralihan ini tidak mengakhiri seluruh hubungan PepsiCo dengan Yum Brands. Kerja sama untuk Taco Bell dan KFC di luar Amerika Serikat tetap berjalan, sedangkan perubahan pemasok minuman KFC AS dijadwalkan mulai berlaku pada musim semi 2027.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Hans)






