Trump Umumkan Coca-Cola Pakai Gula Tebu Diet Coke Tetap Gunakan Aspartam

JurnalLugas.Com — Presiden Amerika Serikat ke-45, Donald Trump, kembali membuat pernyataan mengejutkan. Lewat akun media sosialnya, Truth Social, ia mengklaim bahwa Coca-Cola telah sepakat untuk mengganti pemanis buatan dengan gula tebu asli dalam produk utamanya yang dipasarkan di Amerika Serikat. Namun hingga kini, tidak ada konfirmasi resmi dari perusahaan minuman raksasa tersebut.

“Saya telah berbicara dengan Coca-Cola tentang penggunaan Gula Tebu ASLI dalam Coca-Cola di Amerika Serikat, dan mereka telah setuju untuk melakukannya,” tulis Trump dalam unggahan tertanggal Kamis (17/7/2025).

Bacaan Lainnya

“Ini akan menjadi langkah yang sangat baik dari mereka, Anda akan lihat. Ini jauh lebih baik!”

Jika benar dilakukan, perubahan tersebut akan menggantikan penggunaan high-fructose corn syrup (HFCS) atau sirup jagung fruktosa tinggi yang selama ini menjadi bahan pemanis utama dalam Coca-Cola produksi AS. Langkah ini disebut-sebut akan menyamakan formula produk di pasar Amerika Serikat dengan Coca-Cola yang dijual di Meksiko atau Australia, yang diketahui menggunakan gula tebu murni.

Namun, perubahan ini tidak berlaku untuk Diet Coke, yang dikenal sebagai minuman favorit Trump. Produk tersebut tetap menggunakan pemanis bebas kalori seperti aspartam.

Coca-Cola Bungkam, Hanya Ucapkan Terima Kasih

Saat dikonfirmasi terkait klaim Trump, juru bicara Coca-Cola Company yang berbasis di Atlanta memberikan jawaban diplomatis.

“Kami menghargai antusiasme Presiden Trump dan akan membagikan informasi lebih lanjut mengenai produk kami dalam waktu dekat,” ujar pihak perusahaan, tanpa mengonfirmasi maupun membantah pernyataan Trump.

Coca-Cola sendiri sejak 2005 telah menghadirkan “Coca-Cola Meksiko” dalam kemasan botol kaca untuk segmen khusus pasar AS. Produk tersebut memang menggunakan gula tebu, namun jumlah dan distribusinya terbatas.

Industri Jagung AS Keberatan

Klaim perubahan bahan baku ini menuai reaksi keras dari pelaku industri jagung. Presiden sekaligus CEO Corn Refiners Association, John Bode, memperingatkan bahwa langkah tersebut bisa berdampak negatif terhadap ekonomi domestik.

“Presiden Trump mendukung lapangan kerja manufaktur Amerika, petani Amerika, dan pengurangan defisit perdagangan. Mengganti HFCS dengan gula tebu akan menghilangkan ribuan lapangan kerja manufaktur makanan, menekan pendapatan pertanian, dan meningkatkan impor gula asing, semuanya tanpa manfaat gizi,” tegas Bode.

Cinta dan Kritik Trump pada Coca-Cola

Trump dikenal sebagai penggemar berat Diet Coke. Dalam masa kepemimpinannya di Gedung Putih, ia bahkan dilaporkan memiliki tombol merah khusus di Meja Resolute untuk memanggil pelayan membawakannya Diet Coke. Ia dikabarkan bisa mengonsumsi hingga 12 kaleng Diet Coke per hari.

Meski demikian, hubungannya dengan Coca-Cola kerap naik turun. Pada 2012, Trump sempat melontarkan kritik pedas, menyebut perusahaan tidak menyukainya. Namun ia tetap mengonsumsi produknya dan menyebutnya sebagai “minuman sampah yang enak.”

Hingga berita ini diturunkan, Coca-Cola belum memberikan klarifikasi resmi atas klaim yang dilontarkan Trump. Publik pun masih menunggu apakah perubahan signifikan ini benar-benar akan diterapkan.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Ngawur Trump Minta AS–Iran Patungan Kelola Selat Hormuz, Strategi Baru Penjajahan

Pos terkait