JurnalLugas.Com – Insiden penembakan yang menewaskan anggota Polri Bharatu Valdo di Markas Komando Polairud Pondok Cabe, Tangerang Selatan, mendorong pemerintah menyoroti kembali proses rekrutmen personel kepolisian, terutama dalam aspek ideologi dan psikologi.
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Dudung Abdurachman mengatakan, sistem rekrutmen anggota Polri menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan menyusul peristiwa yang melibatkan sesama anggota kepolisian tersebut.
Menurut Dudung, penilaian terhadap calon anggota perlu memperhatikan aspek ideologi dan psikologi untuk melihat berbagai gejala yang berpotensi berkaitan dengan persoalan di lingkungan kepolisian.
“Ya, sistem rekrutmen, dari ideologi, psikologi itu pasti akan sangat dominan,” kata Dudung di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Meski demikian, Dudung menegaskan dirinya masih mencari informasi lebih jelas mengenai latar belakang penembakan tersebut.
Ia belum memastikan apakah peristiwa itu berkaitan dengan dugaan perundungan yang disebut-sebut muncul dalam informasi awal kasus.
“Saya masih cari informasi yang jelas terkait motif,” ujarnya.
Dudung Ingatkan Anggota Polri Tidak Bertindak Emosional atau Arogan
Selain menyoroti proses rekrutmen, Dudung mengingatkan anggota Polri agar menyelesaikan persoalan melalui jalur kedinasan.
Jika menghadapi masalah, personel diminta melaporkannya kepada atasan atau pimpinan, bukan mengambil tindakan yang dapat membahayakan orang lain.
“Laporlah kepada atasannya, kepada pimpinannya, jangan melakukan tindakan-tindakan dengan emosi dan kontrol yang tidak benar,” kata Dudung.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah proses penyidikan kasus yang menewaskan Bharatu Valdo. Peristiwa itu terjadi pada Jumat (16/10/2026) di Markas Komando Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara (Ditpoludara) Korpolairud Baharkam Polri, Pondok Cabe, Tangerang Selatan.
Dalam insiden tersebut, Valdo dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami penembakan dan penikaman. Polda Metro Jaya telah mengamankan dan menahan Bharada Andhika Rahmadani, anggota Polri yang diduga terlibat dalam kejadian tersebut.
Penyidik masih mendalami kronologi dan motif untuk mengungkap fakta di balik peristiwa itu. Karena itu, dugaan perundungan maupun persoalan pribadi yang disebut dalam informasi awal belum dapat dipastikan sebagai penyebab kejadian.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Bowo)






