Jamie Dimon Ancaman Terbesar AS Bukan China Tapi Salah Urus dari Dalam Negeri

JurnalLugas.Com – CEO JPMorgan Chase, Jamie Dimon, melontarkan pernyataan tajam terkait dinamika geopolitik antara Amerika Serikat dan China. Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Nasional Reagan yang digelar di Simi Valley, California, Jumat lalu, Dimon menegaskan bahwa kekhawatiran utamanya bukanlah China, melainkan kondisi internal Amerika Serikat sendiri.

“China adalah musuh potensial — mereka memang melakukan banyak hal dengan baik dan juga memiliki segudang persoalan. Tapi yang benar-benar membuat saya khawatir adalah kita sendiri. Apakah kita mampu memperbaiki nilai, kemampuan, dan tata kelola bangsa ini?” ujar Dimon.

Bacaan Lainnya

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China, yang dipicu oleh kebijakan tarif era Presiden Donald Trump. Kebijakan proteksionis yang berubah-ubah tersebut telah menimbulkan gelombang ketidakpastian dalam perekonomian global.

China Tak Akan Tunduk

Dalam kesempatan itu, Dimon juga mengomentari klaim Trump yang menuduh China telah “benar-benar melanggar” perjanjian dagang. Ia menyangsikan bahwa Beijing akan menyerah di bawah tekanan Washington.

Baca Juga  Trump Peringatkan ke Netanyahu, Israel Bisa Bertempur Sendiri Hadapi Iran

“Mereka tidak takut, kawan. Anggapan bahwa China akan tunduk pada Amerika adalah sesuatu yang sangat saya ragukan,” tegas Dimon.

Pernyataan ini memperkuat pandangan bahwa persaingan antara dua raksasa ekonomi dunia tidak akan mereda dalam waktu dekat.

Krisis Internal Jadi Fokus Utama

Lebih jauh, Dimon menyuarakan keprihatinannya atas sejumlah persoalan domestik yang dinilai sebagai bentuk “salah urus” besar-besaran. Ia menyoroti perlunya reformasi dalam berbagai sektor vital, termasuk perizinan usaha, sistem regulasi, kebijakan imigrasi, perpajakan, kualitas pendidikan di kawasan urban, hingga sistem layanan kesehatan.

“Apa yang Anda dengar hari ini di panggung adalah gambaran salah urus yang luar biasa — mulai dari tingkat negara bagian, kota, hingga pensiun. Hal-hal ini berpotensi menghancurkan kita,” imbuhnya.

Dimon juga mengamini pandangan Warren Buffett yang menilai bahwa Amerika Serikat memiliki ketangguhan luar biasa, tetapi menegaskan bahwa tantangan saat ini sangat berbeda dan memerlukan aksi kolektif yang cepat.

Ancaman Defisit Membayangi

Kekhawatiran Dimon bukan tanpa dasar. Menurut laporan terbaru Congressional Budget Office (CBO) pada Juni 2024, defisit anggaran pemerintah AS telah menembus angka US\$2 triliun — setara dengan 7% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut menjadi indikator betapa gentingnya kondisi fiskal negara adidaya tersebut.

Dimon percaya bahwa jika reformasi dilakukan secara serius, pertumbuhan ekonomi tahunan AS bisa mencapai angka 3%.

“Kita harus bertindak bersama. Dan kita harus melakukannya dengan sangat cepat,” tutupnya dengan nada mendesak.

Untuk informasi dan berita terkini lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait