JurnalLugas.Com — Serangan udara besar-besaran Amerika Serikat (AS) terhadap fasilitas nuklir Iran ternyata tidak mencapai hasil maksimal. Berdasarkan laporan awal dari Badan Intelijen Pertahanan (DIA), kemampuan utama Iran dalam memperkaya uranium masih tetap utuh, menggugurkan klaim Gedung Putih yang sebelumnya menyebut program nuklir Iran telah “dihancurkan”.
Tiga narasumber yang mengetahui isi penilaian itu menyebutkan, serangan tersebut hanya menimbulkan gangguan sementara terhadap program nuklir Iran. “Perkiraan kami, keterlambatan hanya berkisar satu hingga dua bulan. Iran masih mampu melanjutkan pengayaan uranium dengan kapasitas yang hampir sama seperti sebelumnya,” kata salah satu sumber yang enggan diungkap identitasnya karena isu sensitif.
Penilaian ini secara langsung bertentangan dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang mengklaim bahwa program nuklir Iran telah dihentikan sepenuhnya. Bahkan, dalam keterangan pers resmi, Gedung Putih menyebut laporan intelijen sebagai “keliru secara fundamental” dan tetap mengklaim serangan itu efektif melemahkan kekuatan nuklir Teheran.
Namun dalam forum internasional, nada pernyataan AS terdengar lebih lunak. “Serangan akhir pekan lalu telah secara signifikan melemahkan kemampuan Iran,” ujar Duta Besar AS untuk PBB dalam pertemuan Dewan Keamanan, tanpa menyebut adanya penghancuran total seperti yang diklaim presiden.
Israel Klaim Dua Ancaman Eksistensial Telah Dilenyapkan
Di pihak lain, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menyatakan bahwa selama 12 hari konflik dengan Iran, Israel berhasil menyingkirkan dua ancaman besar: nuklir Iran dan rudal balistik. “Kami tidak akan membiarkan Teheran bangkit kembali. Ini adalah pesan tegas kami,” ucap Netanyahu dalam pernyataan video yang dirilis secara resmi.
Konflik antara kedua negara ini memuncak pada 13 Juni, saat Israel meluncurkan gelombang serangan udara ke berbagai lokasi strategis di Iran. Beberapa situs penting diduga digunakan untuk pengembangan senjata nuklir, serta menewaskan sejumlah petinggi militer Iran. Tak tinggal diam, Iran membalas dengan rentetan rudal ke wilayah Israel.
Iran Tegaskan Program Nuklirnya Bersifat Damai
Kementerian Luar Negeri Iran kembali menegaskan bahwa program nuklir negara tersebut semata-mata untuk kepentingan sipil. “Kami tidak sedang mengejar senjata nuklir. Semua pengayaan uranium dilakukan demi kepentingan medis dan energi,” tegas juru bicara kementerian dalam jumpa pers di Tehran.
Saat ini, setelah adanya peringatan keras dari Presiden Trump terkait pelanggaran gencatan senjata, kedua belah pihak menunjukkan sinyal untuk menurunkan ketegangan. Gencatan senjata diberlakukan mulai Selasa pukul 05.00 GMT. Meski demikian, ancaman akan respons militer tetap mengemuka jika kesepakatan ini dilanggar.
Evaluasi intelijen yang kini beredar di kalangan internal menunjukkan satu hal penting: strategi serangan udara AS tidak berhasil melumpuhkan fondasi program nuklir Iran. Kegagalan ini sekaligus memunculkan pertanyaan serius tentang keakuratan dan keandalan informasi intelijen militer Amerika Serikat ke depannya.
Baca berita aktual lainnya hanya di JurnalLugas.Com.






