JurnalLugas.Com – Pemerintah China mengonfirmasi keberhasilan tiga kapal komersialnya melintasi Selat Hormuz di tengah situasi blokade yang memanas akibat konflik geopolitik kawasan Teluk.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menyampaikan bahwa pelayaran tersebut dilakukan setelah koordinasi dengan berbagai pihak terkait.
“Setelah komunikasi intensif, tiga kapal China berhasil melintasi Selat Hormuz baru-baru ini,” ujarnya dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (31/3/2026).
Dua Kapal Raksasa Cosco Tembus Jalur Rawan
Dua kapal kontainer milik perusahaan pelayaran raksasa Cosco yakni CSCL Indian Ocean dan CSCL Arctic Ocean tercatat melintasi selat tersebut secara berurutan berdasarkan data pelacakan MarineTraffic.
Keduanya melintas di dekat Pulau Larak yang berada di bawah kendali Iran sebelum melanjutkan perjalanan menuju Port Klang, Malaysia.
Meski berhasil menembus jalur tersebut, Cosco diketahui sebelumnya sempat menangguhkan rute melalui Selat Hormuz akibat meningkatnya risiko keamanan sejak awal Maret.
China Serukan Perdamaian Kawasan
Dalam pernyataannya, Mao Ning menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan global, khususnya distribusi energi.
Ia juga menyerukan penghentian konflik untuk mengembalikan stabilitas kawasan Teluk.
“Selat Hormuz memiliki peran penting dalam perdagangan internasional. Kami berharap ketegangan dapat segera dihentikan,” ujarnya singkat.
Iran Siapkan Regulasi Ketat untuk Kapal Asing
Di sisi lain, parlemen Iran tengah membahas kebijakan baru terkait pengaturan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Salah satu poin utama adalah penerapan tarif transit menggunakan mata uang nasional Iran.
Anggota Komisi Keamanan Nasional, Mojtaba Zarei, menyebut bahwa aturan tersebut juga berpotensi membatasi kapal yang memiliki hubungan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Selain itu, negara-negara yang ikut serta dalam sanksi terhadap Iran juga terancam dilarang melintas di jalur strategis tersebut.
AS Tolak Klaim Iran atas Selat Hormuz
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menolak tuntutan Iran yang meminta pengakuan kedaulatan penuh atas Selat Hormuz dalam perundingan yang sedang berlangsung.
Ketegangan antara Iran, AS, dan Israel terus meningkat sejak serangan militer gabungan pada 28 Februari 2026 yang menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan menggunakan drone dan rudal ke sejumlah wilayah termasuk Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk.
Dampak Global Harga Minyak Melonjak
Blokade de facto di Selat Hormuz memberikan dampak besar terhadap pasar energi global. Jalur ini diketahui mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak per hari—setara 20 persen pasokan dunia.
Akibatnya, harga minyak melonjak tajam. Di pasar New York Mercantile Exchange, minyak mentah tercatat naik lebih dari 3 persen ke level 106,05 dolar AS per barel.
Sementara itu, minyak mentah Brent juga mengalami kenaikan hingga 115,35 dolar AS per barel.
Keberhasilan kapal China menembus Selat Hormuz menjadi sinyal penting di tengah ketidakpastian global. Namun, ketegangan yang belum mereda tetap menyisakan risiko besar bagi stabilitas energi dan ekonomi dunia.
Langkah diplomasi internasional kini menjadi kunci untuk mencegah krisis yang lebih luas.
Baca berita global terkini lainnya di JurnalLugas.Com
(PJ)






