JurnalLugas.Com — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memuncak setelah Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menghancurkan sistem radar pertahanan misil Amerika Serikat di Uni Emirat Arab serta menyerang kapal pengisian bahan bakar yang tergabung dalam kelompok kapal induk AS di Samudera Hindia, Senin (2/3/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor berita semi-resmi Tasnim, yang mengutip sumber internal militer Iran.
Radar THAAD Diklaim Hancur
Dalam pernyataannya, IRGC menyebut sebuah rudal presisi jarak jauh berhasil menghantam sistem radar Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) milik Amerika Serikat yang ditempatkan di Al-Ruwais, Uni Emirat Arab.
Sistem THAAD dikenal sebagai salah satu komponen utama pertahanan rudal balistik AS di kawasan Teluk. Radar tersebut berfungsi mendeteksi dan melacak ancaman rudal jarak jauh sebelum dicegat di fase terminal.
Seorang pejabat IRGC yang dikutip Tasnim, disingkat “Juru Bicara IRGC”, menyatakan bahwa serangan itu merupakan “pesan tegas terhadap kehadiran militer asing yang mengancam keamanan regional.”
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Uni Emirat Arab maupun militer Amerika Serikat terkait klaim tersebut.
Kapal Pengisian BBM AS Disebut Tak Beroperasi
Dalam serangan terpisah, IRGC mengklaim telah melumpuhkan sebuah kapal pengisian bahan bakar yang menjadi bagian dari kelompok kapal induk Amerika Serikat di Samudera Hindia. Kapal itu disebut diserang menggunakan kombinasi drone tempur dan rudal jarak menengah.
Serangan dilaporkan terjadi sekitar 700 kilometer dari Kota Chabahar, Iran tenggara. IRGC menegaskan kapal tersebut kini “tidak dapat beroperasi” akibat kerusakan yang ditimbulkan.
Sumber militer Iran, dikutip sebagai “Komandan Unit Maritim IRGC”, menyebut bahwa unit rudal antikapal selam mereka saat ini terus melacak pergerakan armada Angkatan Laut AS di kawasan tersebut.
Namun, pihak Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) belum mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengonfirmasi atau membantah klaim tersebut.
Bagian dari “Operasi Janji Sejati 4”
Rangkaian serangan ini disebut sebagai bagian dari operasi balasan yang dinamakan “Operasi Janji Sejati 4” atau Operation True Promise 4. Iran menyatakan operasi tersebut merupakan respons langsung atas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada Sabtu (28/2).
Dalam narasi resmi Teheran, serangan gabungan itu disebut menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat tinggi lainnya dan lebih dari 100 warga sipil.
IRGC mengeklaim telah melancarkan beberapa gelombang serangan yang menargetkan aset militer AS dan Israel di berbagai titik kawasan, termasuk pangkalan militer di Kuwait, Irak, dan Arab Saudi.
“Operasi ini akan terus berlanjut selama ancaman terhadap kedaulatan Iran belum dihentikan,” ujar pernyataan resmi IRGC yang dirilis melalui Tasnim.
Eskalasi Konflik Regional
Analis keamanan kawasan menilai klaim serangan ini berpotensi memperluas konflik menjadi konfrontasi terbuka antara Iran dan Amerika Serikat, dengan dampak signifikan terhadap stabilitas energi global serta keamanan jalur pelayaran internasional.
Selat Hormuz dan Samudera Hindia merupakan jalur vital perdagangan minyak dunia. Setiap eskalasi militer di kawasan tersebut dapat memicu lonjakan harga energi dan memperburuk ketegangan geopolitik global.
Hingga kini, belum ada verifikasi independen terkait tingkat kerusakan yang ditimbulkan dalam klaim serangan tersebut. Komunitas internasional masih menunggu respons resmi dari Washington dan sekutu regionalnya.
Perkembangan situasi ini akan terus dipantau seiring meningkatnya tensi militer dan diplomatik di Timur Tengah.
Baca berita internasional terbaru dan analisis mendalam lainnya hanya di https://JurnalLugas.Com
(HD)






