JurnalLugas.Com — Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi blokade maritim terhadap Iran telah mencapai dampak signifikan dalam waktu singkat. Dalam laporan terbaru yang disampaikan pada Selasa (14/4), militer AS mengklaim seluruh aktivitas perdagangan laut dari dan menuju pelabuhan Iran terhenti dalam waktu kurang dari 36 jam sejak kebijakan tersebut diberlakukan.
Pernyataan ini memicu sorotan tajam di tengah meningkatnya ketegangan kawasan Teluk, setelah Washington resmi memulai blokade pada Senin dengan menyasar seluruh lalu lintas kapal di jalur strategis menuju pelabuhan Iran.
Blokade Meluas di Jalur Strategis Teluk
CENTCOM menyebutkan bahwa kebijakan tersebut mencakup pengawasan ketat terhadap seluruh kapal dari berbagai negara yang melintas di wilayah Teluk Persia dan Teluk Oman. Langkah ini disebut sebagai bagian dari operasi militer untuk menekan aktivitas maritim yang terhubung dengan Iran.
Namun dalam pernyataan yang sama, otoritas militer AS menegaskan bahwa operasi tersebut tidak dimaksudkan untuk mengganggu kebebasan navigasi di jalur internasional utama, termasuk kapal yang melintas di Selat Hormuz selama tidak menuju pelabuhan Iran.
“Kami tidak akan menghalangi kebebasan navigasi bagi kapal yang melintas menuju dan dari pelabuhan non-Iran,” demikian garis besar pernyataan komando AS.
Klaim Kapal Berbalik Arah dan Tanker Dicegat
Dalam perkembangan 24 jam pertama, CENTCOM mengklaim tidak ada satu pun kapal yang berhasil menembus blokade. Sebaliknya, sejumlah kapal dagang dilaporkan memilih untuk mematuhi instruksi dan berbalik arah menuju pelabuhan di Teluk Oman.
Di sisi lain, sumber militer Amerika menyebutkan bahwa Angkatan Laut AS juga telah mencegat beberapa kapal tanker minyak yang diduga hendak masuk atau keluar dari pelabuhan Iran sejak operasi dimulai. Namun detail teknis mengenai kapal-kapal tersebut belum diungkap secara rinci kepada publik.
Latar Ketegangan Gagalnya Negosiasi
Kebijakan blokade ini muncul tidak lama setelah perundingan langsung antara Amerika Serikat dan Iran yang difasilitasi di Pakistan dilaporkan gagal mencapai kesepakatan. Pembicaraan tersebut sebelumnya diharapkan dapat meredakan eskalasi konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Kegagalan diplomasi itu disebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya tekanan militer di kawasan, termasuk langkah blokade maritim yang kini menjadi perhatian global.
Pengamat menilai, jika blokade ini terus berlangsung, dampaknya tidak hanya terbatas pada Iran dan Amerika Serikat, tetapi juga dapat mengganggu rantai pasok energi global. Jalur Teluk Persia sendiri merupakan salah satu rute vital pengiriman minyak dunia.
Ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut juga berpotensi memicu volatilitas harga energi serta meningkatkan risiko gangguan perdagangan internasional.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak Iran terkait klaim keberhasilan blokade yang disampaikan oleh CENTCOM.
Baca berita lainnya JurnalLugas.Com
(HD)






