JurnalLugas.Com – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menyampaikan pernyataan kontroversial terkait eskalasi konflik dengan Iran. Dalam wawancara eksklusif dengan media internasional pada Senin (16/6/2025), Netanyahu menyebut bahwa pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bisa menjadi akhir dari ketegangan yang selama ini berlangsung antara Teheran dan Tel Aviv.
“Ini bukan tentang meningkatkan konflik, ini tentang mengakhirinya,” tegas Netanyahu.
Menurutnya, Iran terus mengarahkan wilayah menuju “perang abadi” dan berisiko memicu konflik nuklir. Netanyahu menegaskan bahwa tindakan militer Israel adalah bentuk pencegahan terhadap agresi yang ia sebut sebagai ancaman global.
“Rezim Khamenei adalah kekuatan jahat. Apa yang dilakukan Israel hari ini adalah untuk menghentikan ancaman sebelum terlambat,” ujar Netanyahu dalam wawancara tersebut.
Sebelumnya, laporan intelijen dari Washington menyebut bahwa Presiden AS Donald Trump sempat memveto rencana Israel yang ingin menargetkan Khamenei. Namun saat dikonfirmasi mengenai hal itu, Netanyahu enggan menjelaskan secara rinci.
“Saya tidak bisa ungkapkan detailnya, tapi kami memang telah menargetkan ilmuwan nuklir top mereka,” kata Netanyahu.
Konflik memanas sejak Jumat lalu, saat Israel meluncurkan serangan udara dan drone secara simultan ke sejumlah fasilitas strategis di Iran, termasuk pangkalan militer dan instalasi nuklir. Teheran membalas dengan tembakan rudal balistik dan serangan drone ke wilayah Israel.
Data dari otoritas Israel menyebutkan sedikitnya 24 warga tewas dan ratusan luka akibat serangan balasan Iran. Di sisi lain, pemerintah Iran mengklaim kehilangan lebih dari 224 orang dan mencatat lebih dari 1.000 korban luka akibat gempuran militer Israel.
Merespons kondisi yang terus memburuk, Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada Senin pagi merilis peringatan perjalanan terbaru. Warga AS diminta menghindari perjalanan ke Israel, Tepi Barat, dan Gaza karena tingginya eskalasi kekerasan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa konflik di Timur Tengah kembali mendekati titik kritis, dengan potensi melibatkan kekuatan global jika tidak segera diredam.
Baca berita lengkap lainnya hanya di JurnalLugas.Com.






