Rupiah Terus Anjlok, Apakah Salah Kelola Ekonomi Bisa Memicu Krisis Seperti 1998?

JurnalLugas.Com – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku usaha. Ketika mata uang domestik menembus level psikologis yang semakin tinggi terhadap dolar Amerika Serikat (AS), pertanyaan yang mulai muncul bukan lagi sekadar soal kurs, melainkan soal kepercayaan terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.

Dalam sejarah ekonomi Indonesia, krisis moneter 1998 menjadi pelajaran paling mahal. Saat itu, gejolak nilai tukar berkembang menjadi krisis multidimensi karena lemahnya kepercayaan pasar terhadap kemampuan pemerintah dan otoritas ekonomi dalam mengendalikan situasi.

Bacaan Lainnya

Kini, meski kondisi ekonomi Indonesia berbeda jauh dibandingkan era 1998, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa kepercayaan investor tetap menjadi faktor utama yang menentukan stabilitas pasar.

Kepercayaan Adalah Mata Uang Kedua

Bagi dunia usaha, stabilitas bukan hanya soal angka pertumbuhan ekonomi. Investor membutuhkan kepastian kebijakan, arah fiskal yang jelas, serta konsistensi regulasi. Ketika ketiga faktor tersebut mulai dipertanyakan, pasar biasanya merespons melalui pelemahan aset keuangan, termasuk nilai tukar.

Seorang analis ekonomi mengatakan bahwa pasar keuangan sangat sensitif terhadap persepsi.

“Ketika investor mulai meragukan efektivitas kebijakan ekonomi, modal cenderung mencari tempat yang dianggap lebih aman. Dampaknya bisa terlihat pada tekanan terhadap mata uang dan pasar modal,” ujarnya, Senin 08 Juni 2026.

Baca Juga  Rupiah Dibuka Melempem per Dolar AS, Pelaku Pasar Tekanan Global

Dalam beberapa bulan terakhir, kalangan bisnis juga menyoroti pentingnya koordinasi yang kuat antara kebijakan fiskal dan moneter agar tidak menimbulkan sinyal yang membingungkan bagi pasar.

Dunia Usaha Menunggu Kepastian

Pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada pasar keuangan. Sektor riil ikut merasakan tekanan, terutama perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor dan memiliki kewajiban pembayaran dalam dolar AS.

Biaya produksi yang meningkat dapat mengurangi ekspansi usaha, menunda investasi baru, hingga menekan daya saing industri nasional.

Di sisi lain, investor asing biasanya memperhatikan stabilitas makroekonomi sebelum menanamkan modal dalam jumlah besar. Ketika nilai tukar terus bergejolak, risiko investasi dianggap meningkat.

Akibatnya, arus modal yang masuk berpotensi melambat dan menciptakan tekanan tambahan bagi perekonomian.

Apakah Krisis 1998 Bisa Terulang?

Pertanyaan tersebut terus muncul setiap kali rupiah mengalami pelemahan tajam. Namun sebagian besar ekonom menilai kondisi saat ini belum dapat disamakan dengan situasi menjelang krisis 1998.

Cadangan devisa Indonesia saat ini jauh lebih besar, sistem perbankan lebih kuat, dan pengawasan sektor keuangan lebih ketat dibandingkan hampir tiga dekade lalu.

Meski demikian, para pengamat mengingatkan bahwa krisis ekonomi sering kali berawal dari hilangnya kepercayaan pasar.

Baca Juga  Resmi Strategi Baru OJK Bikin Pasar Derivatif & ESG Meledak Hingga 2030

Jika pelemahan rupiah terus berlanjut, investasi melambat, konsumsi melemah, dan kepercayaan pelaku usaha menurun dalam waktu bersamaan, maka risiko perlambatan ekonomi yang lebih dalam tidak bisa diabaikan.

“Krisis tidak datang dalam semalam. Biasanya diawali oleh sinyal-sinyal yang diabaikan terlalu lama,” kata seorang ekonom.

Situasi saat ini dapat menjadi momentum bagi pemerintah untuk memperkuat komunikasi ekonomi, meningkatkan kepastian regulasi, serta menunjukkan komitmen terhadap pengelolaan fiskal yang sehat.

Pasar pada dasarnya tidak hanya menilai kondisi ekonomi saat ini, tetapi juga menilai keyakinan terhadap masa depan. Karena itu, langkah-langkah yang mampu memulihkan kepercayaan investor dan dunia usaha akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas rupiah.

Pelemahan mata uang belum tentu berujung pada krisis. Namun sejarah menunjukkan bahwa ketika kepercayaan mulai terkikis dan tidak segera dipulihkan, tekanan ekonomi dapat berkembang menjadi persoalan yang jauh lebih besar.

Baca analisis ekonomi dan bisnis lainnya di JurnalLugas.Com

(Soefriyanto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait