JurnalLugas.Com — Ketegangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat di tengah upaya menjaga momentum perdamaian yang masih rapuh. Pernyataan terbaru dari Teheran menegaskan bahwa jalan menuju dialog konstruktif masih dipenuhi hambatan serius.
Menteri Luar Negeri Iran, Seyed Abbas Araghchi, pada Senin (20/4) secara tegas menyebut tindakan Amerika Serikat sebagai faktor utama yang mengganggu kelanjutan perundingan damai. Ia menilai sejumlah langkah Washington sebagai “provokatif” dan tidak sejalan dengan semangat gencatan senjata yang telah disepakati sebelumnya.
Menurut keterangan resmi Kementerian Luar Negeri Iran, Araghchi menyampaikan kritik tersebut dalam pembicaraan terpisah dengan mitranya dari Pakistan dan Rusia.
Dalam komunikasi itu, Iran menyoroti tindakan terhadap pelayaran komersialnya, termasuk laporan penyitaan kapal kontainer Touska beserta awaknya.
Teheran menilai langkah tersebut mencerminkan inkonsistensi kebijakan Washington yang disertai retorika ancaman.
Situasi ini terjadi di tengah masa gencatan senjata yang baru berlaku sejak 8 April, setelah konflik selama 40 hari yang meningkatkan ketegangan di kawasan. Meski kesepakatan penghentian sementara konflik telah dicapai, stabilitasnya masih jauh dari kata aman.
Upaya mediasi yang dilakukan oleh Pakistan sempat membuka ruang dialog. Negara tersebut menjadi tuan rumah putaran pertama pembicaraan tidak langsung antara Teheran dan Washington pada 11–12 April di Islamabad. Namun hingga kini, Iran belum memberikan kepastian untuk mengikuti putaran lanjutan.
Laporan dari kantor berita semiresmi Tasnim menyebut bahwa partisipasi Iran sangat bergantung pada sikap Amerika Serikat. Dalam laporan itu, disebutkan bahwa blokade angkatan laut serta tuntutan yang dianggap berlebihan dari pihak AS menjadi penghalang utama tercapainya kesepahaman.
Dalam pernyataannya, Araghchi menegaskan bahwa Iran tidak akan terburu-buru mengambil keputusan. Ia menekankan bahwa pemerintah akan mempertimbangkan seluruh aspek, termasuk perilaku Washington, sebelum menentukan langkah diplomasi selanjutnya.
“Iran akan mengevaluasi secara menyeluruh situasi yang ada dan bertindak berdasarkan kepentingan nasional serta keamanan negara,” ujarnya.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun jalur diplomasi masih terbuka, kepercayaan antara kedua pihak belum sepenuhnya pulih. Tanpa perubahan sikap yang signifikan, peluang tercapainya kesepakatan damai jangka panjang diperkirakan akan tetap menghadapi tantangan besar.
Sumber selengkapnya: https://JurnalLugas.Com
(HD)






