JurnalLugas.Com — Kenaikan harga emas kembali menjadi sorotan pada awal Mei 2026. Kementerian Perdagangan Republik Indonesia mencatat lonjakan signifikan pada harga patokan ekspor (HPE) dan harga referensi (HR) komoditas emas, dipicu meningkatnya minat investor terhadap instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kemendag, Tommy Andana, mengungkapkan bahwa tren kenaikan ini mencerminkan pergeseran preferensi pasar internasional. “Permintaan emas sebagai aset safe haven meningkat tajam, terutama saat volatilitas ekonomi global masih tinggi,” ujarnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (30/4/2026).
Berdasarkan data terbaru, HR emas mengalami kenaikan dari 4.589,33 dolar AS per troy ounce menjadi 4.764,90 dolar AS per troy ounce. Sementara itu, HPE emas juga terdongkrak hingga mencapai 153.194,87 dolar AS per kilogram.
Kenaikan ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Dalam periode pengumpulan data, harga emas tercatat menguat sebesar 3,83 persen. Momentum tersebut diperkuat oleh fase pemulihan pasar setelah koreksi yang terjadi pada akhir Maret 2026.
Selain faktor teknikal, sentimen global turut memainkan peran penting. Ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter di sejumlah negara maju mendorong investor mengalihkan portofolionya ke aset yang dianggap lebih stabil, termasuk emas. Dalam kondisi suku bunga yang berpotensi menurun, emas menjadi pilihan menarik karena tidak tergerus inflasi secara signifikan.
Penetapan HPE dan HR emas sendiri tidak dilakukan secara sepihak. Prosesnya melibatkan berbagai kementerian dan lembaga strategis, termasuk Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kementerian Keuangan, Kementerian Perindustrian, serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.
Acuan utama harga emas merujuk pada standar internasional yang ditetapkan oleh London Bullion Market Association. Referensi ini menjadi indikator penting dalam menjaga transparansi serta akurasi kebijakan perdagangan komoditas Indonesia di pasar global.
Koordinasi lintas sektor tersebut dinilai krusial untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil tetap responsif terhadap dinamika pasar internasional sekaligus melindungi kepentingan nasional.
Dengan tren kenaikan yang terus berlanjut, emas diperkirakan masih akan menjadi instrumen investasi favorit dalam jangka pendek, terutama jika ketidakpastian ekonomi global belum mereda.
Baca selengkapnya di JurnalLugas.Com
(ED)






