JurnalLugas.Com — Bank Indonesia terus memperkuat strategi menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi pasar keuangan dunia. Salah satu langkah terbaru yang kini didorong ialah pengembangan instrumen pasar uang bagi investor ritel maupun korporasi agar dana masyarakat tetap berputar di dalam negeri.
Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan pasar sekaligus memperluas pilihan investasi berbasis rupiah di tengah meningkatnya tekanan ekonomi global, fluktuasi mata uang asing, dan perubahan arus modal internasional.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida Budiman, mengatakan pengembangan instrumen pasar uang bukan hanya bertujuan memperkuat stabilitas ekonomi nasional, tetapi juga membuka peluang inklusi keuangan yang lebih luas bagi masyarakat.
“Tujuannya agar masyarakat dan investor tetap nyaman memegang aset dalam rupiah serta terus berinvestasi di Indonesia,” ujar Aida dalam agenda Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) di Jakarta, Sabtu 23 Mei 2026.
Menurutnya, kondisi ekonomi global saat ini menuntut masyarakat lebih bijak dalam mengelola keuangan. Karena itu, peningkatan literasi finansial dinilai menjadi fondasi penting agar generasi muda tidak mudah terjebak keputusan investasi berisiko tinggi.
Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan, OJK, dan LPS kini memperkuat edukasi keuangan melalui berbagai program kolaboratif yang menyasar generasi muda dan pelaku ekonomi digital.
Aida menegaskan literasi keuangan tidak hanya soal memahami produk investasi atau layanan perbankan, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan finansial secara cerdas dan berkelanjutan.
“Di tengah perubahan global yang cepat, masyarakat perlu memahami risiko dan peluang keuangan secara lebih matang,” katanya.
Selain memperkuat instrumen investasi rupiah, Bank Indonesia juga terus memperluas sistem pembayaran digital nasional melalui QRIS. Teknologi tersebut dinilai berhasil mempercepat transaksi sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan modern.
Hingga April 2026, pengguna QRIS tercatat telah mencapai sekitar 63 juta orang dengan lebih dari 45 juta merchant aktif. Sebagian besar pengguna berasal dari sektor UMKM yang kini semakin terdigitalisasi.
Ekonom digital menilai keberhasilan QRIS menunjukkan transformasi ekonomi nasional bergerak semakin cepat. Sistem pembayaran digital dinilai mampu membantu pelaku usaha kecil bertahan di tengah perubahan pola transaksi masyarakat.
“Digitalisasi pembayaran membuat aktivitas ekonomi lebih efisien dan memperluas akses usaha kecil ke sistem keuangan formal,” ujar seorang analis ekonomi digital.
Tak hanya fokus pada transaksi, BI juga mulai memperkuat pengembangan talenta digital melalui program seperti Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) dan Digdaya x Hackathon. Program tersebut disiapkan untuk mencetak generasi muda yang adaptif terhadap ekonomi digital masa depan.
Di sisi lain, perlindungan konsumen juga menjadi perhatian utama. BI menjalankan program PeKA atau Peduli, Kenali, dan Adukan guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman penipuan digital dan kejahatan finansial online yang semakin marak.
Program LIKE IT sendiri menjadi bagian dari kerja sama lintas lembaga antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, OJK, dan LPS untuk memperkuat literasi dan inklusi keuangan nasional.
Sebelumnya pada awal Mei 2026, BI juga telah meluncurkan tujuh instrumen stabilisasi nilai tukar rupiah. Kebijakan itu meliputi intervensi pasar spot domestik, domestic non-deliverable forward (DNDF), pembelian surat berharga negara, hingga penguatan pengawasan transaksi dolar AS.
Bank Indonesia bahkan memperketat pembelian dolar tanpa underlying dari sebelumnya 100 ribu dolar AS per bulan menjadi 50 ribu dolar AS dan nantinya kembali diturunkan menjadi 25 ribu dolar AS.
Langkah tersebut dinilai sebagai upaya menjaga ketahanan rupiah sekaligus memastikan likuiditas domestik tetap stabil di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda.
Baca berita ekonomi dan informasi terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Endarto)






