JurnalLugas.Com — Hubungan Amerika Serikat dan Israel dikabarkan mulai menunjukkan celah serius di tengah memanasnya konflik kawasan Timur Tengah. Di saat negosiasi sensitif dengan Iran berlangsung, Washington disebut tidak lagi sepenuhnya melibatkan Israel dalam proses diplomasi strategis tersebut.
Situasi itu memicu kekhawatiran baru di kalangan pejabat Israel karena akses informasi mereka terhadap arah pembicaraan AS-Iran disebut semakin terbatas. Kondisi tersebut bahkan membuat Israel harus mengandalkan jalur intelijen sendiri untuk memantau perkembangan negosiasi yang berpotensi mempengaruhi keamanan kawasan.
Laporan media internasional menyebut sejumlah pejabat Israel mengaku kesulitan memperoleh gambaran utuh terkait komunikasi diplomatik antara Washington dan Teheran. Informasi yang mereka peroleh lebih banyak berasal dari hubungan informal dengan diplomat regional hingga operasi pengintaian di lapangan.
Seorang pejabat yang mengetahui dinamika tersebut menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump masih memandang Israel sebagai mitra penting dalam aspek militer, namun tidak sepenuhnya dijadikan bagian utama dalam proses negosiasi diplomatik dengan Iran.
“Kerja sama keamanan tetap berjalan, tetapi pembahasan politik strategis kini lebih tertutup,” ujar sumber yang dikutip media asing.
Situasi itu menandai perubahan arah hubungan antara dua sekutu lama tersebut. Selama bertahun-tahun, Israel dikenal memiliki pengaruh besar terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah, khususnya terkait Iran.
Namun dinamika terbaru menunjukkan Washington tampaknya mulai mengambil pendekatan yang lebih independen dalam meredakan konflik regional yang terus memburuk sejak awal 2026.
Ketegangan memuncak setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada akhir Februari lalu. Operasi militer itu dilaporkan menimbulkan kerusakan besar dan korban sipil di beberapa wilayah strategis Iran.
Teheran kemudian merespons dengan meluncurkan serangan balasan ke sejumlah titik di Israel dan fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Eskalasi tersebut membuat dunia internasional khawatir konflik dapat berkembang menjadi perang regional berskala besar.
Meski sempat terjadi gencatan senjata pada 7 April 2026, upaya perdamaian masih belum menemukan titik terang. Pembicaraan lanjutan antara Washington dan Teheran yang digelar di Islamabad dilaporkan berakhir tanpa kesepakatan pasti.
Pengamat geopolitik menilai minimnya keterlibatan Israel dalam negosiasi bisa menjadi strategi Washington untuk membuka ruang diplomasi yang lebih fleksibel dengan Iran.
“AS kemungkinan ingin mengurangi tekanan politik eksternal agar dialog dengan Iran bisa berjalan lebih leluasa,” ujar seorang analis hubungan internasional.
Di sisi lain, kondisi tersebut berpotensi memicu ketidakpercayaan baru dari Israel terhadap langkah diplomasi Amerika Serikat. Terlebih, isu keamanan Iran selama ini menjadi perhatian utama pemerintah Israel.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Gedung Putih maupun otoritas Israel terkait laporan tersebut. Namun perkembangan ini dinilai menjadi sinyal bahwa peta kekuatan dan diplomasi Timur Tengah sedang mengalami perubahan besar.
Baca berita internasional dan geopolitik terbaru lainnya di JurnalLugas.Com
(Dahlan)






