Rupiah Hancur, Rencana Beli 50 Boeing Rp220 Triliun, Danantara Kaji Leasing Pesawat

JurnalLugas.Com – Di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat, rencana pembelian puluhan pesawat Boeing oleh Indonesia kembali menjadi perhatian publik. Kondisi kurs yang berada di level tinggi membuat berbagai transaksi berbasis dolar AS dinilai berpotensi menambah beban biaya dalam sektor strategis nasional.

Pada saat masyarakat dan pelaku usaha menghadapi dampak pelemahan rupiah, Badan Pengelola Investasi Danantara justru tengah mengkaji pembentukan perusahaan leasing atau penyewaan pesawat sebagai bagian dari strategi pendanaan armada penerbangan nasional.

Bacaan Lainnya

Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa opsi pembentukan perusahaan leasing masih berada dalam tahap pembahasan dan analisis mendalam.

“Kami sedang mengkaji kemungkinan untuk memiliki perusahaan leasing sendiri,” ujarnya usai menghadiri rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta.

Pernyataan tersebut berkaitan dengan rencana pengadaan 50 unit pesawat Boeing yang akan digunakan untuk memperkuat armada nasional, termasuk kebutuhan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk.

Pengadaan pesawat merupakan transaksi bernilai sangat besar yang umumnya menggunakan mata uang dolar AS. Ketika rupiah mengalami tekanan berkepanjangan, biaya pembelian maupun pembayaran cicilan dapat meningkat secara signifikan.

Baca Juga  Prabowo Tunjuk Dony Oskaria Jadi Plt Menteri BUMN Ini Alasannya

Sejumlah ekonom menilai pelemahan kurs harus menjadi perhatian serius karena dapat berdampak langsung terhadap berbagai proyek yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor.

“Setiap pelemahan rupiah akan memperbesar biaya investasi yang menggunakan dolar. Perusahaan harus memiliki strategi mitigasi yang kuat,” ujar seorang analis pasar keuangan.

Dengan kurs rupiah yang bergerak di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, kekhawatiran terhadap meningkatnya tekanan ekonomi nasional semakin menguat. Masyarakat mulai mempertanyakan kemampuan berbagai sektor dalam menghadapi lonjakan biaya akibat penguatan dolar AS.

Leasing Jadi Alternatif Pendanaan

Menurut Dony, terdapat banyak aspek yang masih dikaji sebelum keputusan final diambil. Selain waktu pengadaan pesawat, model bisnis pembiayaan juga menjadi faktor penting yang sedang dianalisis.

Danantara disebut sedang mempertimbangkan berbagai skema agar investasi besar tersebut tetap memberikan keuntungan dan tidak membebani keuangan perusahaan maupun negara dalam jangka panjang.

“Semua opsi sedang dihitung untuk mendapatkan model yang paling menguntungkan,” kata Dony.

Pembentukan perusahaan leasing sendiri dinilai dapat memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan armada serta mengurangi ketergantungan terhadap perusahaan pembiayaan asing yang selama ini mendominasi industri penerbangan global.

Bagian dari Kesepakatan Dagang Indonesia-AS

Rencana pembelian Boeing juga tidak dapat dipisahkan dari kesepakatan perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat yang telah ditandatangani pada awal 2026.

Dalam dokumen kerja sama tersebut, Indonesia memiliki komitmen melakukan pengadaan pesawat komersial serta berbagai produk dan jasa penerbangan dengan nilai mencapai 13,5 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp220 triliun jika menggunakan kurs saat ini.

Baca Juga  Tony Blair Bergabung sebagai Dewan Pengawas Danantara Rosan Roeslani Semua Diajak

Menteri Investasi sekaligus Kepala BKPM, Rosan Perkasa Roeslani, sebelumnya menjelaskan bahwa salah satu implementasi kesepakatan tersebut adalah rencana pembelian 50 pesawat Boeing.

Di tengah pelemahan rupiah, tingginya biaya impor, serta ketidakpastian ekonomi global, berbagai keputusan investasi berskala besar kini berada dalam sorotan publik.

Pengamat menilai pemerintah dan pelaku usaha harus semakin cermat dalam mengelola risiko nilai tukar agar tekanan terhadap perekonomian tidak semakin besar. Stabilitas rupiah menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus mencegah perlambatan ekonomi yang lebih dalam.

Meski kondisi saat ini belum dapat dikategorikan sebagai krisis moneter, pelemahan kurs yang berkepanjangan menjadi alarm yang tidak boleh diabaikan. Langkah antisipasi dan penguatan fundamental ekonomi dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak memasuki fase tekanan ekonomi yang lebih berat pada masa mendatang.

Baca berita ekonomi, bisnis, dan investasi terbaru lainnya di JurnalLugas.Com

(Endarto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait