JurnalLugas.Com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melontarkan peringatan keras kepada Inggris terkait penggunaan pangkalan udara milik negara tersebut oleh Amerika Serikat.
Teheran menilai keputusan London membuka akses bagi operasi militer AS dapat memperluas konflik dan memicu konsekuensi yang lebih besar di kawasan.
Pemerintah Iran menegaskan bahwa setiap negara yang memberikan dukungan terhadap aksi militer yang ditujukan kepada wilayahnya akan dimintai pertanggungjawaban.
Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya eskalasi hubungan antara Iran dan Amerika Serikat dalam beberapa pekan terakhir.
Melalui Kementerian Luar Negeri, Iran menyampaikan bahwa pihaknya tetap berkomitmen menjaga kedaulatan, integritas wilayah, serta keamanan nasional.
Teheran juga menegaskan tidak akan tinggal diam apabila ada negara lain yang terlibat dalam operasi militer terhadap Iran.
“Setiap pihak yang menjadi bagian dari agresi militer terhadap Iran harus siap menanggung konsekuensi atas keputusan tersebut,” demikian inti pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran.
Selain mengeluarkan peringatan, Iran juga mengecam keputusan pemerintah Inggris yang mengizinkan pangkalan udaranya digunakan oleh pesawat militer Amerika Serikat.
Menurut Teheran, kebijakan tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait penghormatan terhadap kedaulatan negara.
Laporan yang beredar menyebut Perdana Menteri Inggris Andy Burnham memberikan izin kepada Amerika Serikat untuk tetap menggunakan fasilitas militer Inggris dalam operasi yang oleh Washington disebut sebagai langkah pertahanan terhadap Iran.
Ketegangan kedua negara sebenarnya sempat mereda setelah Iran dan Amerika Serikat menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni 2026 sebagai dasar penghentian konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Namun situasi kembali berubah ketika sejak awal Juli Amerika Serikat kembali melancarkan sejumlah operasi militer ke wilayah Iran.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran yang dinilai mengancam kapal-kapal niaga yang melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi terpenting di dunia.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.
Aksi saling serang itu kembali meningkatkan kekhawatiran dunia internasional terhadap potensi meluasnya konflik yang dapat mengganggu stabilitas kawasan maupun rantai pasok energi global.
Situasi semakin memanas setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa gencatan senjata antara Washington dan Teheran tidak lagi berlaku.
Pernyataan tersebut memunculkan spekulasi mengenai kemungkinan meningkatnya operasi militer dalam waktu dekat apabila upaya diplomasi tidak segera dilakukan.
Pengamat hubungan internasional menilai keterlibatan negara-negara sekutu dalam konflik berpotensi memperluas eskalasi dan memperumit penyelesaian melalui jalur diplomatik.
Karena itu, berbagai pihak terus mendorong agar dialog kembali menjadi pilihan utama demi mencegah dampak yang lebih luas terhadap keamanan regional maupun ekonomi global.
Baca berita internasional, ekonomi, dan geopolitik terbaru lainnya di JurnalLugas.Com.
(Handoko)






