JurnalLugas.Com — Harga minyak mentah dunia menguat tajam pada perdagangan Kamis, 24 September 2026. Kenaikan sekitar 3 persen membawa harga minyak ke posisi tertinggi dalam sepekan setelah serangan rudal kelompok Houthi ke Arab Saudi kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi.
Penguatan harga berlangsung cukup agresif sepanjang perdagangan. Brent dan West Texas Intermediate (WTI) bahkan sempat mencatat kenaikan sekitar 5 persen sebelum akhirnya memangkas sebagian penguatannya.
Kontrak berjangka Brent ditutup naik 3,4 persen menjadi USD106,60 per barel. Sementara WTI Amerika Serikat menguat 2,7 persen ke level USD94,61 per barel.
Kenaikan tersebut membuat Brent mencatatkan penutupan tertinggi sejak 15 September.
Isu Selat Hormuz Tekan Kenaikan
Pergerakan harga minyak tidak berlangsung satu arah. Setelah sempat melonjak, harga kembali turun dari level tertingginya menyusul laporan mengenai pembahasan antara Amerika Serikat dan Iran terkait kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Informasi tersebut menjadi faktor yang meredam kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak melalui jalur strategis tersebut.
Di sisi lain, serangan rudal Houthi ke Arab Saudi menjadi perhatian pasar karena kembali meningkatkan risiko terhadap kelancaran pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.
Dua sentimen tersebut membuat perdagangan minyak berlangsung volatil. Pasar harus merespons secara cepat perkembangan keamanan di kawasan sekaligus kabar mengenai kemungkinan terbukanya kembali jalur pelayaran penting.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan harga minyak masih sangat dipengaruhi perkembangan geopolitik dan potensi gangguan pasokan.
Berita ekonomi dan perkembangan pasar lainnya dapat dibaca di JurnalLugas.Com.
(Endarto)






