Harga Minyak Brent Kembali Tembus USD98, Serangan Kapal Tanker Bikin Pasar Cemas

JurnalLugas.Com – Harga minyak mentah dunia kembali menguat setelah serangkaian insiden terhadap kapal tanker di kawasan Teluk memicu kekhawatiran mengenai kelancaran pasokan energi global. Kenaikan ini sekaligus membalikkan penurunan tajam yang terjadi sehari sebelumnya.

Pada perdagangan Kamis, 5 November 2026, minyak mentah Brent ditutup di level USD98,29 per barel atau naik 3,88 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 2,72 persen menjadi USD90,52 per barel.

Bacaan Lainnya

Penguatan tersebut terjadi setelah kedua acuan minyak dunia itu anjlok lebih dari 8 persen pada perdagangan Rabu, 4 November 2026. Penurunan sebelumnya membawa harga minyak ke posisi penutupan terendah sejak 31 Agustus.

Perubahan arah pasar menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap keamanan pengiriman minyak masih menjadi faktor penting dalam pembentukan harga, meskipun sebelumnya muncul harapan meredanya ketegangan geopolitik.

Sedikitnya Lima Kapal Laporkan Insiden

Ancaman terhadap jalur distribusi energi kembali menjadi perhatian setelah sedikitnya lima kapal melaporkan insiden di kawasan Teluk sejak Minggu, 2 November 2026.

Data badan keamanan maritim Inggris, UK Maritime Trade Operations (UKMTO), menunjukkan intensitas serangan terhadap kapal di kawasan tersebut masih mendekati rekor tertinggi.

Baca Juga  Harga Minyak Dunia Ambruk Setelah OPEC+ Pasar West Texas Intermediate (WTI) dan Brent Loyo

Pada Oktober lalu, UKMTO mencatat 35 kapal menjadi sasaran serangan. Jumlah itu merupakan yang tertinggi dalam satu bulan sejak perang berlangsung.

Laporan mengenai kapal tanker yang diduga menabrak ranjau maupun menjadi sasaran pesawat nirawak turut menambah kecemasan pelaku pasar.

Risiko terhadap kapal pengangkut minyak dapat mengganggu jadwal pengiriman dan membuat distribusi energi semakin sulit dipastikan.

Kondisi tersebut membuat pasar belum sepenuhnya yakin pasokan minyak dapat kembali normal dalam waktu singkat.

Ketegangan AS-Iran Masih Membayangi Harga

Selain serangan terhadap kapal tanker, investor juga mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Sikap Teheran dalam proses negosiasi dengan Washington dinilai belum menunjukkan perubahan yang dapat meredakan kekhawatiran pasar.

Perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran sejak Februari 2026 telah menjadi salah satu faktor yang menekan pasar energi. Ketegangan berkepanjangan meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur pelayaran dan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, hasil pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November 2026 turut menjadi perhatian investor. Partai Demokrat berhasil mengambil alih kendali kedua kamar Kongres dari Partai Republik yang dipimpin Presiden Donald Trump.

Baca Juga  Harga Minyak Dunia Melonjak Hampir 8 Persen

Kongres baru dengan dominasi Demokrat tersebut dijadwalkan mulai bertugas pada Januari 2027.

Citi dalam catatan risetnya menyoroti kemungkinan Gedung Putih lebih memusatkan perhatian pada penggunaan kewenangan eksekutif dalam kebijakan luar negeri setelah pemilu sela berakhir.

Perubahan fokus tersebut dinilai berpotensi membuka ruang bagi eskalasi lebih lanjut dalam konflik dengan Iran.

Pasar Minyak Masih Rentan Berubah

Kenaikan Brent ke USD98,29 per barel memperlihatkan betapa cepatnya sentimen geopolitik memengaruhi harga komoditas energi.

Penurunan tajam pada Rabu sempat memberi sinyal meredanya tekanan pasar. Namun, insiden baru terhadap kapal tanker kembali menghidupkan kekhawatiran bahwa distribusi minyak dunia belum sepenuhnya aman.

Selama ketidakpastian keamanan jalur pelayaran dan perkembangan diplomasi masih berlangsung, harga minyak berpotensi tetap bergerak fluktuatif.

Pelaku pasar kini tidak hanya memperhatikan jumlah produksi minyak, tetapi juga kemampuan mengirimkan komoditas tersebut secara aman hingga ke negara tujuan.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Endarto)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait