JurnalLugas.Com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup melemah pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026.
Tekanan pasar terjadi di tengah perhatian investor terhadap perombakan Kabinet Merah Putih yang dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan pemerintah.
IHSG berakhir turun 61,64 poin atau 1,02 persen ke level 6.009,50. Indeks bertahan di zona merah sejak awal perdagangan hingga penutupan.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M Nafan Aji Gusta, mengatakan pelaku pasar sedang mencermati dampak reshuffle terhadap kesinambungan kebijakan ekonomi pemerintah.
“Pasar melihat ada ketidakpastian mengenai arah kebijakan setelah reshuffle,” kata Nafan.
Menurut dia, respons pasar terhadap perubahan kabinet tidak hanya ditentukan oleh siapa yang masuk dan keluar pemerintahan.
Investor juga akan melihat kesinambungan kebijakan ekonomi, koordinasi antarinstansi, serta dampaknya terhadap program fiskal dan investasi.
Dalam jangka pendek, perubahan susunan kabinet dapat membuat pasar lebih volatil karena investor membutuhkan waktu untuk membaca kembali arah kebijakan pemerintah.
Namun, Nafan menyebut dampaknya bisa berbeda apabila reshuffle justru dinilai mampu memperkuat efektivitas pemerintahan dan memberikan kepastian terhadap agenda ekonomi.
Karena itu, pasar dinilai lebih membutuhkan kejelasan kebijakan dibanding sekadar perubahan komposisi kabinet.
“Reaksi awal perlu dibedakan dari dampak fundamentalnya,” ujar Nafan.
Investor Masih Selektif
Tekanan IHSG juga datang dari faktor eksternal. Tingginya yield US Treasury, tekanan terhadap rupiah, serta ketidakpastian geopolitik masih menjadi perhatian investor terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.
Nafan melihat investor cenderung defensif dan selektif. Rebalancing portofolio dilakukan dengan mengurangi eksposur pada saham berkapitalisasi besar yang sensitif terhadap arus modal asing.
Kondisi tersebut tercermin dari berlanjutnya net foreign sell dan tekanan pada sejumlah saham big caps.
Investor, kata Nafan, selanjutnya akan mencermati pergerakan rupiah, yield obligasi, arus dana asing, serta data ekonomi domestik sebelum meningkatkan eksposur secara lebih agresif.
Dari sisi teknikal, area 6.019 menjadi support penting IHSG. Jika level tersebut mampu dipertahankan, peluang technical rebound masih terbuka. Sebaliknya, penembusan signifikan terhadap level tersebut dapat meningkatkan risiko koreksi lanjutan.
Nafan menempatkan area 5.854 sebagai support berikutnya, sedangkan 6.185-6.240 menjadi resistance yang perlu dilewati untuk mengonfirmasi rebound teknikal.
Pada perdagangan Kamis, seluruh sektor tidak bergerak searah. Sektor energi menguat 0,53 persen, sementara tekanan terbesar datang dari sektor teknologi yang turun 3,68 persen.
Frekuensi transaksi mencapai 2,57 juta kali dengan volume perdagangan 31,03 miliar saham senilai Rp11,05 triliun. Sebanyak 218 saham menguat, 470 saham melemah, dan 275 saham tidak berubah.
Pergerakan IHSG hari ini menunjukkan pasar masih sensitif terhadap kombinasi faktor domestik dan global.
Selain mencermati dampak reshuffle, investor juga menghadapi tekanan eksternal yang membuat strategi perdagangan cenderung lebih berhati-hati.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Hans)






