JurnalLugas.Com — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) bergerak terbatas pada perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. Pelaku pasar masih mencermati sejumlah sentimen eksternal sambil menunggu data terbaru mengenai kondisi pasokan dan permintaan sawit.
Kontrak berjangka CPO untuk pengiriman Desember di Bursa Malaysia Derivatives Exchange sempat berada di kisaran 4.535 hingga 4.570 ringgit per ton.
Hingga jeda perdagangan siang, kontrak tersebut menguat 11 ringgit atau 0,24 persen menjadi 4.546 ringgit per ton.
Pergerakan CPO cenderung sideways karena aktivitas pasar relatif tipis. Salah satu penyebabnya adalah pasar China yang sedang tutup, sementara investor menunggu laporan Malaysian Palm Oil Board (MPOB).
Kepala Riset Sunvin Group, Anilkumar Bagani, menilai pergerakan CPO masih terbatas karena pasar menunggu gambaran terbaru mengenai permintaan dan pasokan sawit.
Di tengah kondisi tersebut, kenaikan harga minyak kedelai di Chicago menjadi salah satu penopang CPO. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade tercatat naik 0,83 persen.
Pergerakan minyak nabati pesaing menjadi perhatian karena CPO harus bersaing dengan komoditas lain untuk merebut permintaan di pasar minyak nabati global.
Sebaliknya, pelemahan harga minyak mentah Brent menjadi sentimen yang menahan penguatan CPO. Bertambahnya ekspor minyak dari Timur Tengah serta rencana pelepasan cadangan minyak oleh negara-negara G7 meningkatkan potensi pasokan energi di pasar.
Harga minyak juga masih dibayangi kekhawatiran terhadap kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk akibat konflik Iran. Pelemahan minyak mentah dapat mengurangi daya tarik CPO sebagai bahan baku biodiesel.
Dari pasar valuta asing, ringgit melemah sekitar 0,1 persen terhadap dolar AS. Pelemahan mata uang Malaysia membuat harga CPO relatif lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Sementara itu, pasar juga mulai mencermati langkah Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang melakukan uji coba platform pemantauan baru untuk meningkatkan transparansi harga komoditas ekspor Indonesia.
Pergerakan CPO selanjutnya masih akan sangat bergantung pada data pasokan dan permintaan yang ditunggu pasar, serta arah harga minyak nabati dan energi global.
Baca berita ekonomi dan komoditas lainnya hanya di JurnalLugas.Com.
(Endarto)






