JurnalLugas.Com – Sebanyak 17 siswa SD Negeri 060870 di Jalan Krakatau/Jalan Bilal, Medan, Sumatera Utara, mengalami mual, muntah, dan lemas setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat, 9 Oktober 2026. Dugaan susu kemasan kedaluwarsa kini menjadi sorotan dalam insiden tersebut.
Para siswa yang mengalami gangguan kesehatan itu dibawa ke RS Imelda Medan untuk mendapatkan penanganan medis. Peristiwa ini mendorong Badan Gizi Nasional (BGN) Sumatera Utara menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ke sekolah tersebut.
Kepala BGN Sumatera Utara, Yoga Aztrianto, membenarkan penghentian sementara fasilitas penyedia makanan itu.
“Iya betul (SPPG ditutup sementara),” ujar Yoga saat dikonfirmasi, Sabtu, 10 Oktober 2026.
Dari penelusuran awal, susu kemasan merek Greenfields diduga berkaitan dengan munculnya gejala yang dialami para siswa. Yoga menyebut produk tersebut telah melewati batas masa konsumsi.
“Greenfields. Itu sudah expired,” kata Yoga.
Ia menambahkan, susu tersebut diperkirakan telah kedaluwarsa selama sekitar satu bulan.
Meski dugaan awal mengarah pada susu kemasan, penyebab pasti gangguan kesehatan para siswa masih perlu dipastikan melalui pemeriksaan lebih lanjut. Karena itu, dugaan tersebut belum dapat dianggap sebagai kesimpulan akhir penyebab insiden.
Enam Siswa Masih Dirawat
Dari 17 siswa yang terdampak, sebanyak 11 orang telah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan. Sementara enam siswa lainnya masih menjalani perawatan di RS Imelda Medan.
Insiden ini memicu kekecewaan keluarga siswa terhadap pelaksanaan program MBG. Heri Setiawan, perwakilan keluarga murid, meminta pemerintah memberikan perhatian serius agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Ia bahkan mengusulkan penghentian program apabila pelaksanaannya terus menimbulkan korban.
“Kalau bisa ditutup saja karena sudah terlalu banyak korban,” tegas Heri, menyampaikan kritik kepada pengelola SPPG dan pemerintah, termasuk Presiden.
Peristiwa di SD Negeri 060870 tersebut kembali menempatkan keamanan pangan sebagai persoalan penting dalam pelaksanaan MBG.
Program pemenuhan gizi bagi siswa tidak cukup hanya memastikan makanan tersedia, tetapi juga harus menjamin bahan yang dibagikan aman dikonsumsi.
Pemeriksaan tanggal kedaluwarsa, kondisi kemasan, penyimpanan, serta proses distribusi menjadi bagian penting dari pengawasan. Produk yang sudah melewati batas masa konsumsi semestinya tidak sampai diterima sekolah, apalagi dibagikan kepada anak-anak.
Penutupan sementara SPPG menjadi langkah awal setelah kejadian ini terungkap. Namun, penelusuran penyebab insiden dan evaluasi pengawasan bahan pangan tetap diperlukan untuk memastikan sumber masalah serta mencegah kejadian serupa terulang.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa keberhasilan MBG tidak semata-mata diukur dari jumlah penerima manfaat.
Keamanan makanan yang disajikan kepada siswa harus menjadi prioritas agar tujuan meningkatkan gizi anak tidak justru diikuti risiko terhadap kesehatan mereka.
Baca berita lainnya
JurnalLugas.Com
(Agus Sitorus)






