Popularitas Trump Anjlok ke 31 Persen, Demokrat Unggul 12 Poin Jelang Pemilu AS

JurnalLugas.Com — Popularitas Presiden Amerika Serikat Donald Trump merosot ke level terendah selama dua masa jabatannya. Penurunan dukungan ini terjadi menjelang pemilu paruh waktu pada 3 November, ketika kenaikan biaya hidup dan perang AS-Israel melawan Iran menjadi persoalan yang membayangi pemerintahan Partai Republik.

Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dirilis Senin menunjukkan hanya 31 persen warga AS yang menyatakan puas terhadap kinerja Trump. Angka tersebut turun satu poin persentase dibandingkan survei dua pekan sebelumnya yang mencatat tingkat kepuasan sebesar 32 persen.

Bacaan Lainnya

Pada saat bersamaan, dukungan terhadap Partai Demokrat dalam pilihan pemilih untuk pemilu paruh waktu tercatat lebih tinggi daripada Partai Republik. Sebanyak 47 persen responden memilih Demokrat, sedangkan 35 persen menyatakan akan memilih Republik.

Selisih 12 poin persentase itu meningkat dari tujuh poin dalam survei sebelumnya. Hasil tersebut memperlihatkan perubahan kecenderungan pemilih yang berpotensi memengaruhi persaingan perebutan kendali Kongres AS.

Survei yang melibatkan 1.679 orang dewasa itu dirilis di tengah meningkatnya perhatian terhadap dampak ekonomi dan politik dari kebijakan pemerintahan Trump. Meski demikian, hasil jajak pendapat nasional belum menggambarkan secara terperinci persaingan di setiap negara bagian dan distrik pemilihan.

Biaya Hidup dan Perang Iran Membayangi Republik

Penurunan tingkat kepuasan terhadap Trump terjadi ketika biaya hidup menjadi salah satu persoalan yang diperhatikan masyarakat. Perang AS-Israel melawan Iran juga menambah tekanan politik terhadap pemerintahan, terutama karena konflik tersebut dinilai tidak populer di kalangan warga AS.

Dalam survei Reuters/Ipsos, Demokrat juga mencatat keunggulan dalam penilaian responden mengenai kemampuan mengelola perekonomian. Sebanyak 40 persen responden menilai Demokrat lebih mampu menangani ekonomi, dibandingkan 33 persen yang memilih Republik.

Dukungan dari pemilih perempuan turut menjadi salah satu aspek yang disorot dalam hasil survei. Sekitar separuh perempuan yang disurvei menyatakan memilih Demokrat ketika ditanya partai mana yang akan mereka dukung dalam pemilu paruh waktu.

Baca Juga  Ketika Dunia Makin Terbelah AHY Minta Indonesia Tampil Jadi Pemimpin Global

Namun, kecenderungan tersebut belum cukup untuk memastikan hasil pemilu. Tingkat partisipasi, persaingan kandidat di setiap wilayah, serta kemampuan partai menggerakkan pendukung untuk datang ke tempat pemungutan suara akan ikut menentukan perolehan kursi.

Mayoritas Tipis Republik di Kongres Terancam Berubah

Pemilu paruh waktu kali ini akan memperebutkan seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat AS dan 33 dari 100 kursi Senat. Hasilnya akan menentukan seberapa besar dukungan legislatif yang dapat diandalkan Trump untuk menjalankan agenda pemerintahannya.

Saat ini, Partai Republik menguasai DPR dengan 218 kursi, berbanding 214 kursi milik Demokrat. Terdapat pula tiga kursi yang belum tercakup dalam kedua angka tersebut.

Di Senat, Republik memiliki 53 kursi, sementara Demokrat menguasai 47 kursi. Dengan komposisi tersebut, perubahan beberapa kursi saja dapat memengaruhi keseimbangan kekuatan di Kongres.

Secara historis, partai yang menguasai Gedung Putih kerap kehilangan kursi dalam pemilu paruh waktu. Data The American Presidency Project dari University of California, Santa Barbara, menunjukkan bahwa partai presiden kehilangan kursi DPR dalam 18 dari 20 pemilu paruh waktu sejak 1946.

Pola serupa juga terlihat dalam sejumlah pemilu ketika tingkat kepuasan terhadap presiden berada di bawah 50 persen. Meski demikian, kondisi politik dan hasil pemilu pada setiap periode berbeda sehingga sejarah tidak bisa digunakan sebagai kepastian untuk memperkirakan hasil pemungutan suara mendatang.

Peta Persaingan DPR dan Senat

Perhatian juga tertuju pada sejumlah negara bagian yang diperkirakan menjadi medan persaingan ketat. Dalam proyeksi NBC News yang dikutip dalam laporan tersebut, Demokrat berpeluang merebut kursi Senat di North Carolina dan Maine yang saat ini dikuasai Republik.

Sementara itu, persaingan di Alaska, Iowa, dan Texas dinilai masih terbuka bagi kedua partai. Perkembangan di negara-negara bagian tersebut dapat berpengaruh terhadap komposisi Senat setelah pemilu.

Di DPR, proyeksi yang sama mengidentifikasi 15 distrik yang berpotensi beralih dari Republik ke Demokrat. Selain itu, empat distrik yang dikuasai Republik dan tiga distrik milik Demokrat masuk kategori persaingan ketat.

Perkiraan tersebut bukan hasil akhir dan masih dapat berubah mengikuti dinamika kampanye serta partisipasi pemilih. Survei nasional yang menunjukkan keunggulan Demokrat juga tidak otomatis berarti partai tersebut akan memperoleh hasil serupa di setiap wilayah.

Baca Juga  Takut Iran Trump Melunak Janji Dukung Palestina Merdeka dan Akhiri Penjajahan Israel

Popularitas Presiden Bukan Satu-satunya Penentu

Meski tingkat kepuasan terhadap Trump menurun, hasil pemilu tetap bergantung pada sejumlah faktor. Center for Politics di University of Virginia mencatat bahwa pendukung partai yang tidak menguasai kursi kepresidenan sering kali lebih termotivasi mengikuti pemilu paruh waktu dibandingkan pendukung partai yang sedang berkuasa.

Lembaga tersebut juga menemukan bahwa tingkat kepuasan terhadap presiden biasanya mengalami perubahan menjelang pemungutan suara. Dalam 12 dari 20 pemilu paruh waktu sejak 1946, tingkat kepuasan turun antara Juli dan November. Pada tujuh pemilu, angkanya justru meningkat, sedangkan satu pemilu tidak mencatat perubahan.

Pengalaman masa lalu memperlihatkan bahwa besarnya perubahan dukungan dapat berjalan beriringan dengan perolehan kursi partai presiden. Pada 1994, ketika tingkat kepuasan terhadap Presiden Bill Clinton berada di angka 46 persen, Partai Demokrat kehilangan 52 kursi di Kongres. Empat tahun kemudian, saat kepuasan terhadap Clinton mencapai 66 persen, Demokrat hanya kehilangan lima kursi.

Perbandingan tersebut menunjukkan adanya hubungan antara penilaian terhadap presiden dan hasil pemilu, tetapi tidak membuktikan bahwa satu faktor saja menentukan hasilnya.

Bagi Trump dan Partai Republik, jajak pendapat terbaru menjadi gambaran tantangan politik menjelang pemilu 3 November 2026. Sementara bagi Demokrat, keunggulan dalam survei nasional perlu diikuti dengan dukungan nyata di masing-masing distrik dan negara bagian jika ingin mengubah komposisi Kongres.

Hasil pemungutan suara nantinya akan menentukan apakah Partai Republik mampu mempertahankan mayoritasnya atau menghadapi perubahan keseimbangan kekuasaan di Washington. Hingga pemilih memberikan suara, angka survei tetap menjadi potret kecenderungan saat ini, bukan kepastian hasil pemilu.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Handoko)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait