Klaim Survei IPO Gerindra Unggul, PSI Diperkuat Jokowi di Bawah 3 Persen

JurnalLugas.Com — Peta elektabilitas partai politik dalam survei terbaru Indonesia Political Opinion (IPO) memperlihatkan jarak cukup lebar antara Partai Gerindra dan para pesaingnya.

Partai yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto itu berada di urutan pertama dengan 23,1 persen, sedangkan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang kini dipimpin Kaesang Pangarep mencatat 2,9 persen.

Bacaan Lainnya

Hasil tersebut menunjukkan Gerindra memimpin di antara partai-partai yang diukur IPO untuk pemilihan anggota DPR RI apabila pemilu digelar saat ini. PDI Perjuangan menempati posisi kedua dengan 11,6 persen, disusul Partai Golkar yang memperoleh 10,7 persen.

Survei yang dilaksanakan pada 12–20 Oktober 2026 itu dirilis dalam rangka dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka. Data ini juga menjadi gambaran dukungan terhadap partai politik di tengah dinamika politik nasional menjelang agenda pemilu berikutnya.

Gerindra Memimpin, Persaingan di Bawahnya Lebih Ketat

Keunggulan Gerindra terlihat dari selisih 11,5 poin persentase terhadap PDIP. Golkar berada di posisi ketiga, dengan jarak yang relatif tipis dari PDIP, yakni 0,9 poin persentase.

Di bawah tiga besar, persaingan berlangsung lebih rapat. PKB mencatat elektabilitas 6,1 persen, Demokrat 5,9 persen, PAN 5,8 persen, PKS 4,6 persen, dan NasDem 4,2 persen.

Baca Juga  Perkuat Konsolidasi PSI, Safari Jokowi Berlanjut ke Jawa Barat, Bandung dan Bekasi

Kedelapan partai tersebut merupakan pemilik kursi di DPR RI saat ini. Sementara itu, PSI berada di posisi kesembilan dengan elektabilitas 2,9 persen, terpaut 1,3 poin persentase dari NasDem.

Posisi PSI menjadi perhatian karena partai tersebut diperkuat oleh Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Putra sulung Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, merupakan Wakil Presiden RI, sedangkan putra bungsunya, Kaesang Pangarep, menjabat Ketua Umum PSI.

Meski memiliki keterkaitan politik dengan keluarga Jokowi, hasil survei ini belum menempatkan PSI sejajar dengan partai-partai yang berada di jajaran atas. Namun, angka tersebut tetap merupakan potret pada periode survei, bukan kepastian hasil pemilu mendatang.

Sejumlah Partai Masih di Bawah Dua Persen

Di luar sembilan partai teratas, PPP memperoleh elektabilitas 1,6 persen. Partai Gerakan Rakyat berada di angka 0,9 persen, disusul Partai Gelora 0,8 persen dan Hanura 0,2 persen.

Adapun Perindo, Partai Ummat, Partai Buruh, PKN, dan Partai Garuda masing-masing tercatat 0,0 persen dalam hasil yang dipublikasikan.

Angka tersebut perlu dibaca sesuai konteks survei dan tidak otomatis berarti dukungan terhadap partai-partai itu benar-benar tidak ada. Hasil 0,0 persen merupakan angka yang dilaporkan dalam survei, sedangkan besarnya dukungan aktual dapat berbeda.

Hal lain yang patut diperhatikan adalah masih besarnya kelompok responden yang belum menyatakan pilihan. Sebanyak 21,6 persen mengaku tidak tahu, tidak menjawab, atau merahasiakan pilihannya.

Baca Juga  Diujung Masa Jabatan Jokowi Lantik Tiga Wamen Berikut Nama Anggota Kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin

Kelompok ini menjadi salah satu faktor yang membuat peta elektabilitas masih mungkin berubah. Meski demikian, belum dapat dipastikan ke mana dukungan responden tersebut akan mengarah.

Metode Survei IPO

IPO melakukan survei terhadap 1.200 responden pada 12–20 Oktober 2026 menggunakan metode multistage random sampling. Survei tersebut memiliki tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error sebesar ±2,9 persen.

Direktur atau penanggung jawab survei tidak disebutkan dalam bahan yang tersedia. Karena itu, hasil ini disajikan berdasarkan data dan keterangan metodologi yang tercantum dalam materi survei.

Secara keseluruhan, temuan IPO menempatkan Gerindra sebagai partai dengan elektabilitas tertinggi, diikuti PDIP dan Golkar. Sementara itu, PSI masih berada di bawah partai-partai parlemen tersebut, dengan dukungan 2,9 persen dalam survei kali ini.

Hasil survei ini merupakan potret opini responden pada waktu pengumpulan data. Perkembangan politik, aktivitas partai, serta pilihan pemilih menjelang pemilu dapat memengaruhi perubahan elektabilitas berikutnya.

Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com

(Soefriyanto news)

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait