JurnalLugas.Com – Insiden peretasan yang menimpa Binance, salah satu platform perdagangan aset kripto terbesar di dunia, mulai mendapat perhatian pemerintah Amerika Serikat. Presiden Donald Trump menyatakan aparat penegak hukum AS sedang mencermati kasus tersebut.
Pernyataan Trump muncul setelah Binance mengungkap adanya aktivitas penarikan aset digital tanpa izin dari sistem mereka. Berdasarkan perkiraan awal perusahaan, nilai aset kripto yang terdampak mencapai 6,3 miliar dolar AS atau sekitar Rp114,17 triliun.
Trump menyampaikan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan belum ada kepastian mengenai pihak yang bertanggung jawab atas serangan siber tersebut.
“Kami masih memeriksa kasus ini dan belum mengetahui seluruh faktanya,” ujar Trump saat menjawab pertanyaan wartawan pada Jumat (30/10).
Dalam kesempatan itu, Trump juga ditanya mengenai kemungkinan keterlibatan kelompok peretas asal Korea Utara. Namun, ia belum memberikan kepastian mengenai dugaan tersebut.
Trump turut menyinggung risiko dalam perdagangan aset digital. Menurutnya, transaksi menggunakan mata uang kripto memiliki tingkat risiko yang berbeda dibandingkan mekanisme keuangan konvensional, termasuk pembayaran menggunakan cek.
Pendiri Binance Pastikan Dana Pengguna Aman
Sebelumnya, pendiri Binance, Changpeng Zhao, mengonfirmasi bahwa platform yang dibangunnya menjadi sasaran serangan siber.
Pernyataan tersebut disampaikan pada Kamis malam (29/10). Meski mengakui adanya serangan, Zhao menyatakan dana milik pengguna tetap aman.
Di tengah penyelidikan insiden tersebut, manajemen Binance juga menjalankan proses pemulihan layanan untuk memastikan aktivitas pengguna dapat kembali berjalan.
Salah satu perhatian utama perusahaan adalah pemulihan fasilitas penarikan dana yang terdampak gangguan.
Binance menargetkan layanan penarikan dapat kembali beroperasi secara normal dalam waktu 45 jam. Target tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan memulihkan akses pengguna setelah terjadinya aktivitas penarikan tanpa izin.
Penyelidikan dan Pemulihan Masih Berjalan
Kasus ini kini memiliki dua aspek penting, yakni penelusuran pihak yang berada di balik serangan dan pemulihan layanan perdagangan aset digital.
Penyelidikan otoritas AS diharapkan dapat membantu mengungkap asal serangan, sementara Binance harus memastikan keamanan sistem dan kelangsungan layanan bagi penggunanya.
Hingga informasi yang disampaikan perusahaan, belum terdapat kepastian mengenai identitas pelaku maupun keterlibatan kelompok peretas tertentu.
Besarnya nilai aset yang disebut terdampak membuat insiden ini menjadi perhatian serius bagi industri kripto, terutama terkait keamanan penyimpanan dan transaksi aset digital.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Handoko)






