JurnalLugas.Com – Minum kopi pada pagi hari dapat membantu seseorang merasa lebih segar dan fokus dalam menjalani aktivitas. Namun, efek kafein ternyata tidak selalu hilang dalam waktu yang sama pada setiap orang.
Ada orang yang bisa minum kopi pada sore hari tanpa mengalami gangguan tidur. Sebaliknya, sebagian orang justru masih merasakan jantung berdebar, sulit rileks, atau susah tidur meskipun sudah berjam-jam sejak terakhir mengonsumsi kopi.
Perbedaan tersebut berkaitan dengan cara tubuh memproses kafein. Faktor genetik, usia, kondisi tubuh, kebiasaan mengonsumsi obat, hingga kehamilan dapat memengaruhi berapa lama zat stimulan ini bertahan dalam tubuh.
1. Faktor Genetik Memengaruhi Kecepatan Pemrosesan Kafein
Salah satu penyebab utama perbedaan efek kafein adalah faktor genetik.
Tubuh manusia memproses sebagian besar kafein melalui enzim hati bernama CYP1A2. Aktivitas enzim ini dipengaruhi oleh variasi genetik sehingga kecepatan pemecahan kafein pada setiap orang bisa berbeda.
Orang dengan aktivitas enzim yang lebih rendah cenderung membutuhkan waktu lebih lama untuk memetabolisme kafein.
Akibatnya, efek kopi dapat bertahan lebih lama dan lebih mudah mengganggu waktu istirahat, terutama jika dikonsumsi menjelang malam.
2. Usia Dapat Memengaruhi Metabolisme Kafein
Usia juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pemrosesan kafein.
Pada sebagian orang lanjut usia, perubahan fungsi organ, termasuk hati, dapat memengaruhi kemampuan tubuh memetabolisme berbagai zat.
Namun, pengaruh usia tidak selalu sama pada setiap individu karena kondisi kesehatan dan faktor genetik juga berperan.
Inilah sebabnya toleransi seseorang terhadap kopi bisa berubah seiring bertambahnya usia.
3. Pengaruh Kehamilan terhadap Efek Kafein
Kehamilan merupakan kondisi yang dapat memperlambat pemecahan kafein secara signifikan.
Perubahan hormon selama kehamilan dapat menurunkan aktivitas enzim yang bertugas memetabolisme kafein.
Akibatnya, kafein membutuhkan waktu lebih lama untuk dikeluarkan dari tubuh.
Pada trimester akhir kehamilan, waktu paruh kafein dapat meningkat secara signifikan dibandingkan kondisi sebelum hamil.
Karena itu, ibu hamil dianjurkan membatasi konsumsi kafein maksimal 200 miligram per hari dari seluruh sumber, termasuk kopi, teh, cokelat, dan minuman berkafein lainnya.
4. Kebiasaan Merokok Bisa Mempercepat Pemecahan Kafein
Menariknya, kebiasaan merokok juga dapat memengaruhi berapa lama kafein bertahan dalam tubuh.
Senyawa dalam asap rokok dapat meningkatkan aktivitas enzim CYP1A2 sehingga proses metabolisme kafein berlangsung lebih cepat.
Artinya, perokok dapat memproses kafein lebih cepat dibandingkan orang yang tidak merokok.
Namun, ketika seseorang berhenti merokok, aktivitas enzim tersebut dapat kembali menurun. Jika jumlah konsumsi kopi tidak disesuaikan, efek kafein bisa terasa lebih kuat atau bertahan lebih lama.
5. Obat-obatan Tertentu Dapat Memperlambat Metabolisme Kafein
Tidak hanya faktor genetik dan kebiasaan, penggunaan obat tertentu juga dapat memengaruhi pemrosesan kafein.
Beberapa obat dapat menghambat aktivitas enzim CYP1A2 sehingga kafein lebih lambat diuraikan oleh hati.
Contohnya adalah fluvoxamine dan ciprofloxacin.
Jika seseorang mengonsumsi obat-obatan tersebut, efek kafein berpotensi bertahan lebih lama.
Karena itu, orang yang sedang menjalani pengobatan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau apoteker mengenai kemungkinan interaksi dengan kopi dan minuman berkafein.
6. Jumlah dan Waktu Minum Kopi Berpengaruh
Lama efek kafein juga berkaitan dengan jumlah yang dikonsumsi dan waktu seseorang meminumnya.
Semakin banyak kafein yang masuk ke tubuh, semakin besar pula jumlah zat tersebut yang perlu diproses.
Kafein juga memiliki waktu paruh rata-rata sekitar 4–6 jam pada orang dewasa, meskipun rentangnya bisa berbeda-beda.
Waktu paruh merupakan periode yang dibutuhkan tubuh untuk mengurangi konsentrasi suatu zat hingga setengah dari jumlah sebelumnya.
Sebagai gambaran, jika seseorang mengonsumsi 200 miligram kafein, setelah lima jam masih mungkin tersisa sekitar 100 miligram di dalam tubuh.
Setelah lima jam berikutnya, jumlahnya dapat berkurang menjadi sekitar 50 miligram.
Itulah sebabnya minum kopi pada sore atau malam hari masih dapat memengaruhi kualitas tidur, meskipun seseorang tidak lagi merasa terlalu bersemangat.
Bagaimana Cara Mengurangi Efek Kafein yang Bertahan Lama?
Bagi orang yang sensitif terhadap kafein, beberapa kebiasaan berikut dapat membantu mengurangi gangguan akibat konsumsi kopi:
- Batasi jumlah kopi. Hindari mengonsumsi kafein secara berlebihan dalam satu hari.
- Hindari kopi menjelang tidur. Berikan jarak sekitar 6–8 jam atau lebih sebelum waktu istirahat.
- Perhatikan sumber kafein lain. Teh, cokelat, minuman energi, dan beberapa jenis obat juga mengandung kafein.
- Kenali respons tubuh. Jika kopi membuat jantung berdebar atau mengganggu tidur, pertimbangkan mengurangi konsumsinya.
- Jangan menghentikan konsumsi secara mendadak jika sudah terbiasa dalam jumlah tinggi. Kurangi secara bertahap untuk membantu mencegah sakit kepala dan gejala putus kafein.
Efek kafein yang bertahan lebih lama pada sebagian orang bukan sekadar persoalan kuat atau lemahnya tubuh terhadap kopi.
Kecepatan metabolisme, faktor genetik, kehamilan, usia, kebiasaan merokok, dan penggunaan obat tertentu dapat memengaruhi berapa lama kafein berada dalam tubuh.
Karena respons setiap orang berbeda, penting untuk mengenali batas toleransi masing-masing.
Jika kopi mulai mengganggu tidur atau menyebabkan keluhan seperti jantung berdebar, mengurangi konsumsi dan memperhatikan waktu minum dapat menjadi langkah awal yang tepat.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Wening)






