JurnalLugas.Com – Presiden Paraguay Santiago Pena mengumumkan pengunduran dirinya pada Kamis, 5 November 2026, setelah krisis Bank Ueno memicu gelombang protes dan mengguncang dukungan politik terhadap pemerintahannya.
Namun, pengumuman tersebut belum langsung mengakhiri masa jabatannya. Parlemen Paraguay belum menyetujui pengunduran diri Pena setelah sidang gabungan majelis rendah dan Senat berakhir tanpa keputusan akibat tidak terpenuhinya kuorum.
Situasi itu membuat Pena masih menjabat sebagai presiden, sementara proses pemakzulan terhadap dirinya tetap berjalan. Senat dijadwalkan kembali membahas perkara tersebut pada Jumat, 6 November 2026.
Sebelumnya, majelis rendah parlemen telah menyetujui dakwaan pemakzulan terhadap Pena. Sebanyak 78 anggota yang hadir mendukung proses tersebut tanpa suara penolakan.
Jika pemakzulan disetujui dan Pena diberhentikan, Wakil Presiden Pedro Alliana akan menggantikannya untuk melanjutkan masa jabatan hingga 2028.
Krisis Bank Ueno Mengguncang Pemerintahan
Pangkal persoalan bermula dari krisis keuangan Bank Ueno, lembaga perbankan digital yang berkembang pesat dan memiliki sekitar tiga juta nasabah di Paraguay.
Bank sentral mengambil alih Ueno pada 3 November 2026 setelah pemeriksaan menemukan kondisi permodalannya berada di bawah separuh batas minimum yang diwajibkan. Temuan tersebut berkaitan dengan pencatatan keuangan dan penyaluran kredit kepada perusahaan yang memiliki hubungan dengan pemilik bank.
Pengambilalihan itu membuat layanan perbankan Ueno terhenti. Nasabah tidak dapat menggunakan aplikasi, kartu pembayaran, maupun layanan transfer. Kantor cabang juga ditutup sehingga banyak orang mendatangi lokasi bank untuk mencari kepastian mengenai simpanan mereka.
Dampaknya meluas karena Ueno tidak hanya mengelola dana masyarakat, tetapi juga menerima simpanan dari sejumlah lembaga publik. Hingga Oktober 2026, dana lembaga pemerintah yang ditempatkan di bank tersebut dilaporkan mencapai sekitar 800 juta dolar AS.
Krisis semakin sensitif karena Pena pernah memiliki saham di perusahaan yang terkait dengan Ueno hingga 2025. Hubungan bisnis masa lalu itu memunculkan pertanyaan mengenai potensi konflik kepentingan dan pengelolaan dana publik.
Pena tidak secara langsung mengakui bertanggung jawab atas krisis tersebut. Namun, ia menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat.
“Saya ingin meminta maaf kepada rakyat jika saya pernah mengecewakan mereka,” ujar Pena.
Ia juga menegaskan, “Tidak pernah ada niat saya untuk mengkhianati kepercayaan yang telah mereka berikan kepada saya.”
Pemakzulan dan Penyelidikan Pidana Berjalan
Tekanan terhadap Pena tidak hanya datang dari demonstrasi masyarakat, tetapi juga dari partainya sendiri. Sejumlah anggota Partai Colorado, yang selama puluhan tahun memiliki pengaruh besar dalam politik Paraguay, ikut mendukung proses pemakzulan.
Kejaksaan Paraguay juga membuka tiga penyelidikan pidana terkait krisis Ueno. Pemeriksaan mencakup pengawasan terhadap bank, penanganan masalah keuangannya, serta penempatan dana publik di lembaga tersebut.
Penyelidikan turut mendalami kemungkinan keterlibatan Pena dan sejumlah pejabat pemerintah, baik yang masih menjabat maupun yang pernah menduduki posisi pemerintahan.
Pena menyatakan bersedia bekerja sama dengan penyelidik dan membela diri dalam proses pemakzulan. Tuduhan terhadap dirinya masih harus dibuktikan melalui proses hukum.
Sementara itu, dampak krisis dirasakan langsung oleh nasabah dan pekerja. Pemerintah memperkirakan sekitar 7.000 pekerjaan, baik langsung maupun tidak langsung, terdampak persoalan Bank Ueno.
Dana penjaminan simpanan mulai digunakan untuk mengembalikan uang nasabah yang tertahan. Perlindungan tersebut diperkirakan dapat mencakup seluruh simpanan sekitar 97 persen nasabah Ueno.
Dengan demikian, pengunduran diri yang diumumkan Pena belum menjadi akhir dari krisis politik Paraguay. Nasib jabatannya masih bergantung pada keputusan parlemen, sedangkan penyelidikan terhadap persoalan Bank Ueno terus berlangsung.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Handoko)






