JurnalLugas.Com – Besarnya perusahaan dan mahalnya teknologi keamanan ternyata tidak otomatis membuat sebuah bisnis kebal terhadap serangan hacker.
Peretasan yang menimpa Binance, salah satu bursa kripto terbesar di dunia, kembali memperlihatkan bahwa celah keamanan digital dapat ditemukan bahkan pada perusahaan dengan infrastruktur teknologi berskala besar.
Insiden yang melibatkan kerugian hingga US$6,3 miliar tersebut menjadi perhatian industri keuangan digital. Persoalannya bukan sekadar besarnya aset yang hilang, tetapi juga kemampuan perusahaan dalam menjaga keamanan sistem yang semakin terhubung dengan berbagai penyedia teknologi eksternal.
Kasus Binance memperlihatkan bahwa reputasi dan skala operasional tidak selalu sejalan dengan tingkat keamanan sebuah perusahaan. Ketika satu bagian sistem mengalami gangguan, dampaknya berpotensi menjalar ke aktivitas bisnis dan kepercayaan pengguna.
CEO perusahaan teknologi keamanan siber FailSafe, Aneirin Flynn, menilai insiden tersebut memiliki skala yang luar biasa.
“Ini adalah pencurian siber terbesar yang pernah tercatat,” kata Flynn, beberapa waktu lalu.
Peristiwa itu sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan industri kripto dalam melindungi aset digital, terutama ketika perusahaan-perusahaan di sektor tersebut berupaya menarik investasi dari lembaga keuangan konvensional.
Serangan tidak selalu berasal dari sistem utama perusahaan
Rangkaian kasus peretasan di industri kripto menunjukkan bahwa ancaman keamanan tidak hanya berada pada sistem utama perusahaan.
Pada Februari 2025, Bybit yang berbasis di Dubai mengalami pencurian aset kripto senilai US$1,5 miliar. FBI mengaitkan serangan tersebut dengan kelompok peretas asal Korea Utara yang kemudian memindahkan aset curian ke ribuan alamat di berbagai jaringan blockchain.
Kasus lainnya menimpa pengguna perangkat keras penyimpanan kripto buatan Coinkite pada Agustus. Peretas memanfaatkan kelemahan perangkat lunak yang membuat kunci pribadi untuk melindungi aset digital dapat diprediksi.
Pada September, Bitget juga melaporkan pencurian aset senilai US$388 juta. Sementara itu, pada Oktober, dompet perangkat keras Ledger yang didistribusikan melalui pengecer di Asia Tenggara turut mengalami insiden yang diperkirakan menimbulkan kerugian lebih dari US$90 juta.
Ledger menyatakan sistem internal perusahaannya tidak diretas.
Ancaman serupa juga terlihat pada Polymarket. Platform tersebut menghentikan sementara perdagangan setelah penyedia layanan pihak ketiganya mengalami peretasan dengan kerugian lebih dari US$2,5 juta.
Berbagai kejadian itu memperlihatkan bahwa keamanan bisnis digital tidak hanya ditentukan oleh perlindungan server atau aplikasi milik perusahaan sendiri. Sistem mitra, perangkat lunak, penyedia layanan, hingga jalur distribusi juga dapat menjadi titik masuk serangan.
Ketergantungan pada pihak ketiga menjadi risiko baru
Persoalan keamanan digital juga muncul di luar industri kripto.
Sejumlah lembaga keuangan Korea Selatan, termasuk Bithumb, Mirae Asset Global Investments, dan Daishin Securities, dilaporkan menghadapi insiden akses tidak sah yang berdampak pada data pengguna.
Kasus tersebut memperlihatkan risiko ketika perusahaan semakin bergantung pada infrastruktur teknologi yang saling terhubung dan layanan yang dikelola pihak eksternal.
Artinya, perusahaan dapat memiliki sistem keamanan internal yang kuat, tetapi tetap menghadapi ancaman melalui mitra teknologi yang digunakan dalam kegiatan operasionalnya.
Kondisi ini membuat pengawasan terhadap penyedia layanan eksternal menjadi bagian penting dari pengelolaan keamanan siber.
Kepercayaan pengguna menjadi taruhan
Dampak peretasan tidak berhenti pada nilai aset yang dicuri. Perusahaan juga harus menghadapi kemungkinan kehilangan kepercayaan pelanggan dan investor.
Dalam kasus Binance, perusahaan menyampaikan komitmen untuk mengganti seluruh kerugian dan sempat menangguhkan penarikan dana pada bursa yang terdampak.
Namun, pemulihan kepercayaan membutuhkan lebih dari sekadar penggantian aset. Pengguna juga membutuhkan kepastian bahwa kelemahan yang menyebabkan insiden telah ditangani.
Pendiri sekaligus CIO D2 Finance, Luca Parlamento, menyoroti konsekuensi keamanan terhadap kepercayaan industri kripto.
Menurut dia, kegagalan berulang dalam penyimpanan dan perlindungan aset dapat menjadi penghambat masuknya modal institusional ke sektor tersebut.
“Ini akan merusak kepercayaan terhadap kripto,” demikian peringatan yang disampaikan dalam pembahasan mengenai insiden keamanan tersebut.
Serangkaian peretasan ini menjadi pengingat bahwa tidak ada perusahaan yang sepenuhnya terbebas dari risiko serangan digital.
Skala bisnis, teknologi canggih, dan reputasi besar tetap harus diimbangi pengawasan keamanan menyeluruh, termasuk terhadap seluruh pihak yang terhubung dengan sistem perusahaan.
Baca berita lainnya di JurnalLugas.Com
(Tirta me)






