JurnalLugas.Com – Harga batu bara mengalami lonjakan signifikan dalam perdagangan terbaru. Komoditas yang sering dijuluki “si batu hitam” ini terus bergerak di jalur kenaikan yang konsisten.
Pada Kamis, 23 Mei 2024, harga batu bara di pasar ICE Newcastle untuk kontrak pengiriman bulan ini tercatat sebesar USD 144,9 per ton.
Angka ini naik 1,36% dibandingkan hari sebelumnya dan merupakan harga tertinggi sejak 8 Mei atau sekitar dua minggu terakhir.
Dalam kurun waktu seminggu terakhir, harga batu bara telah mencatat kenaikan sebesar 0,8% secara point-to-point. Jika dilihat dalam periode satu bulan, kenaikannya mencapai 7%.
Kenaikan harga ini didukung oleh permintaan yang masih tinggi. Di Amerika Serikat, misalnya, peran batu bara masih cukup signifikan.
Data dari US Energy Information Administration menunjukkan bahwa pada tahun 2022, batu bara masih menyumbang sekitar 16% dari bauran energi.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan kontribusi dari sumber energi terbarukan seperti angin (11%), air (6%), dan matahari (4%).
Secara teknikal, analisis harian menunjukkan bahwa batu bara masih berada di zona bullish. Hal ini terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang berada di angka 86,52.
RSI di atas 50 mengindikasikan aset dalam posisi bullish, namun angka di atas 70 juga menandakan kondisi jenuh beli (overbought).
Indikator Stochastic RSI yang sudah mencapai angka 100 juga menguatkan sinyal overbought, menunjukkan kondisi sangat jenuh beli.
Dengan demikian, ada risiko bahwa harga batu bara bisa turun dalam waktu dekat. Target support terdekat diperkirakan berada di angka USD 136 per ton. Jika level ini tertembus, target berikutnya adalah USD 124 per ton.
Di sisi lain, target resisten terdekat berada di angka USD 150 per ton. Jika level ini berhasil ditembus, harga batu bara berpotensi naik lebih lanjut menuju USD 154 per ton.
Dengan volatilitas yang tinggi, para pelaku pasar perlu mencermati perkembangan harga dan indikator teknikal untuk mengantisipasi pergerakan selanjutnya.






