JurnalLugas.Com – Harga batu bara global kembali menunjukkan tren penguatan. Pada perdagangan Rabu (2/7/2025), harga batu bara untuk kontrak bulan depan di ICE Newcastle ditutup menguat sebesar 0,63% ke level US\$112,5 per ton. Ini merupakan level tertinggi sejak 4 Februari 2025 atau hampir lima bulan terakhir.
Kenaikan ini memperpanjang tren positif batu bara selama empat hari berturut-turut. Secara akumulatif, dalam empat hari terakhir, harga si “emas hitam” telah melesat 6,04%.
Analis energi dari Global Commodities Insight, R. Suryanto, menilai musim panas di belahan bumi utara menjadi salah satu pemicu utama lonjakan harga. “Permintaan listrik meningkat signifikan karena penggunaan pendingin ruangan melonjak. Ini mendorong permintaan terhadap batu bara sebagai sumber utama pembangkit,” ujarnya.
Fenomena gelombang panas yang melanda sejumlah wilayah di Asia Timur, terutama Tiongkok, turut memperkuat tren ini. Suhu udara di Beijing tercatat sempat menyentuh hampir 40 derajat Celsius dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ekstrem tersebut memicu lonjakan konsumsi listrik secara masif.
Data dari International Energy Agency (IEA) menunjukkan bahwa batu bara masih menyumbang sekitar 61,3% dari total pembangkitan listrik di Tiongkok sepanjang 2023. Ini menjadikan Negeri Tirai Bambu sebagai salah satu konsumen batu bara terbesar di dunia.
Meski tren energi terbarukan terus meningkat, batu bara masih menjadi andalan utama negara-negara dengan konsumsi energi tinggi, khususnya saat permintaan listrik melonjak tajam.
Dengan musim panas yang diprediksi akan lebih panjang tahun ini akibat perubahan iklim, pelaku pasar memperkirakan harga batu bara masih berpotensi melanjutkan reli dalam beberapa pekan ke depan.
Meta Deskripsi (SEO):
Harga batu bara naik 4 hari beruntun dan tembus US\$112,5/ton, tertinggi sejak Februari 2025, didorong lonjakan konsumsi listrik akibat musim panas.
Sumber berita dan artikel lainnya dapat diakses di:
👉 JurnalLugas.Com






