Harga Emas Dunia Naik Tipis Pasar Menanti Data Inflasi PCE AS Investor Tunggu Kebijakan Moneter Federal Reserve (The Fed)

JurnalLugas.Com – Pada perdagangan awal pekan, Senin (27/5/2024), harga emas dunia mengalami kenaikan sebesar 0,25 persen, mencapai level USD 2.339,2 per troy ons, berdasarkan data dari Trading Economics.

Kenaikan ini terjadi sementara pasar menantikan rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dari Amerika Serikat (AS) minggu ini.

Bacaan Lainnya

Pergerakan Harga Emas
Penutupan harga emas pada Jumat (24/5) menunjukkan penurunan sebesar 0,12 persen, berada di level USD 2.334 per troy ons.

Sebelumnya, harga emas sempat mengalami penurunan signifikan selama dua hari berturut-turut, dengan masing-masing penurunan sebesar 2,33 persen dan 1,36 persen, menurut laporan Investing.com. Selama sepekan, harga emas tercatat turun 3,71 persen.

Faktor-faktor Penurunan Harga Emas
Emas mencapai level tertinggi dalam hampir satu bulan pada Jumat (17/5), namun kemudian menurun akibat berbagai data ekonomi AS yang beragam dan dampaknya terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Penurunan ini mengindikasikan ekspektasi investor terhadap kebijakan suku bunga The Fed yang lebih hawkish.

Pada Kamis (23/5), laporan awal S&P Global menunjukkan peningkatan aktivitas bisnis di sektor manufaktur, jasa, dan PMI komposit untuk bulan Mei.

Baca Juga  Harga Emas Pegadaian Hari Ini, UBS dan Galeri24 Kompak Naik

Selain itu, klaim pengangguran yang lebih rendah dari perkiraan mengindikasikan kekuatan pasar tenaga kerja AS, yang menambah tekanan terhadap harga emas.

Kebijakan Moneter dan Ekspektasi Pasar
Risalah rapat The Fed pada Mei mengungkapkan kekhawatiran tentang inflasi yang masih tinggi.

Beberapa pejabat The Fed mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut jika inflasi tidak mereda.

Gubernur The Fed, Christopher Waller, menyatakan bahwa ia perlu melihat “beberapa bulan lagi” data inflasi yang menguntungkan sebelum mempertimbangkan penurunan suku bunga.

Meskipun data terbaru menunjukkan kemajuan, Waller menekankan bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang.

Pernyataan Pejabat The Fed
Dalam pidato pada Selasa (21/5/2024) di Peterson Institute for International Economics, Waller menekankan bahwa inflasi belum mencapai target 2 persen meskipun ada tanda-tanda perlambatan.

Ia juga mencatat penjualan ritel yang lebih lemah dan tanda-tanda perlambatan di pasar tenaga kerja sebagai faktor-faktor yang menunjukkan bahwa kebijakan moneter saat ini berada pada jalur yang tepat untuk menekan inflasi.

Presiden Federal Reserve Bank of Atlanta, Raphael W. Bostic, Senin (20/5), mengindikasikan bahwa suku bunga AS mungkin akan tetap tinggi, mirip dengan tingkat yang terlihat pada 1990-an.

Baca Juga  Harga Emas Pegadaian Naik Kompak, UBS dan Galeri24 Tembus Level Baru

Ia juga menyatakan bahwa hanya satu penurunan suku bunga yang mungkin terjadi pada 2024. Senada dengan Bostic, Wakil Ketua The Fed, Michael S. Barr, juga menegaskan bahwa suku bunga perlu dipertahankan.

Data CPI terbaru yang mengecewakan pada kuartal I-2024 memperkuat pandangannya untuk tidak mendukung pemotongan suku bunga.

Kenaikan harga emas dunia pada awal pekan ini mencerminkan ketidakpastian pasar menjelang rilis data inflasi PCE AS.

Sementara itu, data ekonomi AS yang beragam dan kebijakan The Fed yang hawkish terus mempengaruhi pergerakan harga emas.

Para investor akan terus memantau perkembangan ini untuk menentukan arah investasi mereka.

Dengan memantau kondisi pasar dan kebijakan moneter, investor dapat membuat keputusan yang lebih tepat dalam menghadapi volatilitas harga emas.

Semoga artikel ini memberikan wawasan yang berguna untuk memahami dinamika pasar emas saat ini.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait