Lee Jae Myung Presiden Baru Korea Selatan Berawal dari Keluarga Miskin hingga Jadi Tokoh Nasional

JurnalLugas.Com – Sosok Lee Jae Myung kini menjadi perbincangan hangat, usai resmi dilantik sebagai Presiden Korea Selatan pada Rabu, 4 Juni 2025. Kemenangannya bukan hanya menandai perubahan politik di Negeri Ginseng, tetapi juga menginspirasi jutaan rakyat dengan latar belakang kehidupan yang sederhana.

Lee menggantikan Presiden sebelumnya, Yoon Suk Yeol, yang dimakzulkan pada 2024 lalu. Dalam Pemilu Presiden yang berlangsung pada Selasa, 3 Juni 2025, Lee Jae Myung yang diusung Partai Demokratik berhasil unggul tipis atas Kim Moon Soo dengan raihan suara 49,42 persen.

Bacaan Lainnya

Namun, kemenangan ini bukanlah awal dari segalanya. Sebaliknya, ini adalah klimaks dari perjalanan hidup panjang yang penuh tantangan.

Anak Buruh Pabrik yang Tak Menyerah

Lee Jae Myung lahir di Andong, Provinsi Gyeongsang Utara, pada 8 Desember 1963. Meski dalam catatan resmi tercatat lahir 22 Desember 1964 akibat keterlambatan administrasi, satu hal yang tak berubah adalah fakta bahwa ia tumbuh dalam keluarga miskin.

Di usia remaja, Lee bahkan harus bekerja di pabrik demi membantu perekonomian keluarga. Impiannya untuk bersekolah sempat terhenti. Namun, kerasnya hidup tak mampu memadamkan tekadnya.

Baca Juga  Resmi! Lee Jae-myung Jadi Presiden Baru Korea Selatan Gantikan Yoon Suk Yeol

Dengan semangat pantang menyerah, ia akhirnya meraih beasiswa penuh di Universitas Chung-Ang pada tahun 1986. Ia menuntaskan pendidikan hukum dan lulus sebagai pengacara setelah melewati ujian negara yang ketat.

Pengacara Rakyat dan Pendobrak Ketidakadilan

Lee dikenal luas sebagai advokat yang vokal membela rakyat kecil. Ia menangani banyak kasus pelanggaran hak asasi manusia, hingga menjadikannya simbol keadilan sosial.

Perjalanan kariernya di dunia hukum selama dua dekade, menjadi fondasi yang kokoh ketika ia memutuskan untuk masuk ke dunia politik pada tahun 2005 melalui Partai Uri—cikal bakal Partai Demokratik Korea (DPK).

Dari Wali Kota hingga Gubernur Pro-Rakyat

Nama Lee mulai mencuat ke panggung nasional ketika menjabat sebagai Wali Kota Seongnam pada 2010. Kepemimpinannya dikenal berani dan transparan, membawa reformasi di sektor pelayanan publik.

Puncaknya, pada 2018, ia terpilih sebagai Gubernur Provinsi Gyeonggi. Di tengah pandemi COVID-19, Lee mengambil langkah berani dengan menyalurkan bantuan tunai langsung kepada warga. Meski sempat berbenturan dengan kebijakan pemerintah pusat, pendekatannya yang berpihak pada masyarakat menjadikannya populer di kalangan rakyat bawah.

Menang di Kali Ketiga, Usai Dua Kali Kalah Tipis

Lee Jae Myung bukan pendatang baru dalam pemilu presiden. Ia sempat maju pada 2017 dan 2022, namun dua kali harus puas di posisi kedua.

Baca Juga  Zohran Mamdani Menang Telak! Wali Kota Muslim Pertama New York Bikin Trump Murka, Ini Profilnya

Meskipun begitu, kekalahan tersebut tak menyurutkan semangatnya. Bahkan, pada 2024, Lee sempat menjadi korban penusukan saat menghadiri acara publik di Busan. Tragedi ini sempat mengguncang negeri, sekaligus membangkitkan simpati nasional atas perjuangannya yang tak kenal lelah.

Presiden Baru, Harapan Baru

Dengan pengukuhan jabatannya sebagai Presiden Korea Selatan pada 4 Juni 2025, Lee Jae Myung menandai era baru dalam pemerintahan negeri tersebut. Latar belakangnya sebagai anak buruh pabrik yang bangkit dari keterpurukan menjadikannya simbol harapan, terutama bagi masyarakat kelas bawah yang mendambakan pemimpin yang mengerti derita mereka.

Kini, tantangan besar telah menantinya. Namun, sejarah hidup Lee Jae Myung telah membuktikan: ia bukanlah orang yang mudah dikalahkan oleh keadaan.

Baca berita selengkapnya hanya di JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait