Ukraina Kehabisan Rudal Patriot, Zelensky Desak Barat Segera Kirim Amunisi Tambahan

JurnalLugas.Com – Situasi pertahanan udara Ukraina kembali menjadi sorotan setelah Presiden Volodymyr Zelensky mengungkapkan bahwa negaranya kini mengalami kekurangan rudal pencegat untuk sistem pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat.

Kondisi tersebut disebut berdampak langsung terhadap kemampuan militer Ukraina dalam menghadapi gelombang serangan rudal balistik yang terus dilancarkan Rusia.

Bacaan Lainnya

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui akun Telegram resminya pada Jumat (31/7/2026), Zelensky mengungkapkan stok rudal pencegat Patriot telah habis sehingga pertahanan udara negaranya berada dalam tekanan yang semakin berat.

Menurut Zelensky, keterbatasan amunisi membuat sistem pertahanan Ukraina tidak lagi mampu menghalau seluruh ancaman rudal yang datang. Ia menggambarkan situasi itu sebagai tantangan serius di tengah meningkatnya intensitas serangan Rusia ke berbagai wilayah.

“Hanya satu rudal balistik yang berhasil dicegat malam ini karena kami sudah tidak memiliki rudal untuk sistem Patriot,” ujar Zelensky.

Pernyataan tersebut kembali menjadi sinyal kepada negara-negara pendukung Ukraina bahwa kebutuhan terhadap sistem pertahanan udara masih sangat mendesak.

Sejak perang berkecamuk, sistem Patriot menjadi salah satu perlengkapan militer paling vital untuk menghadapi rudal balistik dan serangan udara jarak jauh.

Zelensky pun kembali meminta negara-negara Barat segera mempercepat pengiriman rudal pencegat tambahan agar pertahanan udara Ukraina tetap mampu melindungi kota-kota strategis serta infrastruktur penting dari serangan Rusia.

Menurutnya, dukungan militer yang berkelanjutan menjadi faktor penting bagi Ukraina untuk mempertahankan kemampuan bertahan di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Di sisi lain, perkembangan lain juga muncul dari Rusia. Kepala Badan Energi Nuklir Rusia (Rosatom), Alexey Likhachev, mengklaim sebuah kapal kargo yang dioperasikan perusahaan pelayaran Fesco tenggelam setelah mengalami serangan di Laut Hitam.

Likhachev menyebut kapal bernama Yanina sedang membawa muatan sipil ketika insiden terjadi. Berdasarkan keterangannya, kapal tersebut berada sekitar 210 kilometer dari Pelabuhan Novorossiysk, Rusia, saat diserang.

“Kapal sedang mengangkut kargo sipil di perairan internasional ketika insiden itu terjadi,” kata Likhachev.

Meski kapal dilaporkan tenggelam, ia memastikan seluruh awak kapal berhasil dievakuasi dengan selamat.

Menurut Likhachev, sebanyak 17 awak kapal telah diselamatkan dan seluruhnya berada dalam kondisi yang baik.

Hingga kini belum ada keterangan independen yang dapat memverifikasi klaim tersebut maupun tanggapan resmi dari pemerintah Ukraina terkait tuduhan serangan terhadap kapal tersebut.

Perkembangan terbaru ini menunjukkan konflik Rusia-Ukraina masih terus berlangsung dengan eskalasi yang melibatkan berbagai sektor, mulai dari serangan udara hingga aktivitas pelayaran di kawasan Laut Hitam.

Di tengah meningkatnya tekanan militer, kebutuhan Ukraina terhadap sistem pertahanan udara modern menjadi semakin mendesak.

Sementara itu, insiden yang diklaim terjadi terhadap kapal sipil di Laut Hitam berpotensi menambah ketegangan di kawasan yang selama ini menjadi salah satu jalur strategis perdagangan internasional.

Negara-negara Barat hingga kini masih menjadi pemasok utama bantuan militer bagi Ukraina. Namun, permintaan Zelensky terkait tambahan rudal Patriot kembali memperlihatkan bahwa kebutuhan logistik pertahanan masih menjadi tantangan besar bagi Kyiv dalam menghadapi serangan Rusia yang terus berlanjut.

Ikuti perkembangan perang Rusia-Ukraina, geopolitik dunia, dan berita internasional terbaru hanya di https://JurnalLugas.Com

(Dahlan)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Andrey Kelin Inggris Terlibat Langsung Serangan AS ke Iran

Pos terkait