JurnalLugas.Com – Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, mengecam keras serangan militer yang dilakukan Israel terhadap Iran. Ia menyebut bahwa agresi militer tersebut menghambat upaya deeskalasi ketegangan dan menjadi batu sandungan serius bagi proses diplomatik di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan ini disampaikan Mohammed bin Salman dalam sambungan telepon resmi dengan Presiden Iran yang baru terpilih, Masoud Pezeshkian. Dalam laporan kantor berita resmi Saudi Press Agency (SPA), percakapan tersebut juga diwarnai dengan penyampaian belasungkawa dari pihak Kerajaan atas korban yang jatuh akibat serangan Israel.
Menurut Putra Mahkota, serangan militer semacam itu hanya memperburuk ketegangan yang sudah tinggi dan menggagalkan berbagai inisiatif perdamaian yang tengah dijajaki banyak pihak. Ia menegaskan bahwa Arab Saudi menolak segala bentuk kekerasan sebagai jalan penyelesaian konflik dan menekankan pentingnya menjadikan dialog sebagai poros utama dalam diplomasi regional.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyambut baik pernyataan itu dan menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan moral dari Arab Saudi. Ia juga mengapresiasi posisi tegas Riyadh yang menolak dan mengecam agresi Israel secara terbuka.
Tak hanya dari Saudi, dukungan terhadap Iran juga datang dari Qatar. Emir Qatar, Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, menjadi pemimpin Arab pertama yang menelepon langsung Presiden Iran pasca serangan Israel. Dalam komunikasi tersebut, Emir mengecam keras agresi militer Zionis dan menyatakan solidaritas penuh kepada rakyat serta pemerintahan Iran.
Serangan Israel terhadap Iran terjadi pada Jumat dini hari, 13 Juni 2025. Dalam operasi besar-besaran tersebut, Angkatan Udara Israel menyerang sejumlah target strategis, termasuk fasilitas program nuklir di Natanz, Fordow, Isfahan, serta pangkalan militer Iran di wilayah barat laut negara itu.
Pihak militer Israel mengklaim bahwa operasi itu bertujuan mencegah ancaman eksistensial dari pengembangan senjata nuklir Iran yang dinilai sudah mendekati “titik tanpa kembali”. Media Iran melaporkan bahwa beberapa pejabat tinggi militer dan ilmuwan nuklir menjadi korban dalam serangan tersebut.
Sebagai tanggapan, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengecam serangan itu sebagai “kejahatan militer” dan memperingatkan bahwa Israel akan menanggung konsekuensi berat. Iran kemudian meluncurkan Operasi Janji Sejati 3 (Operation True Promise 3) sebagai bentuk pembalasan.
Media Israel mengabarkan bahwa puluhan orang menjadi korban dalam serangan balasan Iran tersebut. Pemerintah Tel Aviv merespons dengan memperluas operasi militernya terhadap fasilitas nuklir Iran, sementara Iran secara resmi telah mengkomunikasikan niat untuk melakukan serangan lanjutan kepada negara-negara barat seperti Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris.
Sikap internasional mulai bergeser. Rusia, dalam pernyataannya, mengecam tindakan militer Israel dan menyebutnya sebagai aksi yang “sama sekali tidak dapat diterima”, memperkuat tekanan global terhadap kebijakan agresif Tel Aviv.
Situasi di Timur Tengah kini berada pada titik kritis, dan dunia internasional menyerukan agar semua pihak menahan diri demi menghindari konflik yang lebih luas.
Untuk informasi dan analisis geopolitik terkini lainnya, kunjungi JurnalLugas.Com.






