Trump Restui Serangan Israel ke Iran Teheran Gunakan Nuklir?

JurnalLugas.Com — Serangan Israel ke Iran bukan manuver militer singkat. Operasi ini dirancang untuk berlangsung berminggu-minggu dan diyakini dijalankan dengan restu diam-diam dari Presiden AS saat itu, Donald Trump.

Informasi dari lingkaran dalam Israel menyebutkan bahwa Washington tidak mempermasalahkan durasi panjang serangan tersebut. Seorang pejabat Israel mengungkapkan bahwa AS secara internal memahami bahwa operasi militer ini butuh waktu dan tidak menuntut hasil instan.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, seorang pejabat Gedung Putih membenarkan bahwa pemerintahan Trump tahu betul arah gerak Israel dan memberikan restu terselubung atas aksi militer itu.

“Pemerintahan Trump percaya bahwa konflik ini dapat dijembatani dengan jalur negosiasi selanjutnya bersama AS,” kata pejabat tersebut kepada media, Minggu (15/6/2025).

Ia menegaskan, AS tak akan ikut campur langsung dalam taktik lapangan Israel, selama misi itu berada dalam kerangka ‘pembelaan diri’.

Dukungan Diam-Diam Trump Dipertanyakan Parlemen AS

Dukungan terselubung Gedung Putih terhadap Israel rupanya tak sepenuhnya diterima di dalam negeri. Sejumlah anggota parlemen AS, terutama dari kubu Demokrat, mulai mengangkat suara. Salah satunya datang dari Seth Moulton, anggota DPR AS yang juga veteran militer Timur Tengah.

“Kami sepakat Iran tak boleh punya senjata nuklir. Tapi bagaimana strategi Israel memastikan itu? Apa tujuan akhirnya? Itu yang belum dijawab,” tegas Moulton.

Ia menilai, hingga kini belum ada transparansi soal ‘endgame’ yang ingin dicapai Israel. Ketiadaan visi jangka panjang membuat Kongres enggan memberikan dukungan penuh terhadap operasi militer yang sedang berlangsung.

Moulton juga menyoroti sikap Washington yang mendadak lebih berhati-hati.

“Selama ini pemerintah AS selalu vokal soal dukungan terhadap Israel. Tapi kali ini, mereka justru sangat pelan menyuarakan posisi,” tambahnya.

Israel Di Atas Angin, Tapi Tujuan Masih Kabur

Terlepas dari kritik, Moulton mengakui bahwa Israel saat ini unggul di medan pertempuran. Respons Iran dinilai lemah dan tidak sebanding dengan presisi serangan Israel.

“Saya tentu ingin berpihak pada Israel. Tapi kami juga ingin tahu, apa sebenarnya rencana jangka panjang Netanyahu?” ucap Moulton, mengacu pada Perdana Menteri Israel.

Pertanyaan itu bukan hanya ditujukan pada Israel, tapi juga pada posisi strategis Amerika Serikat di tengah konflik yang bisa saja menyeret kawasan ke dalam krisis yang lebih luas.

Saat dunia menahan napas, konflik ini kini tak lagi sekadar duel dua negara, tapi menjadi pertaruhan posisi global antara kekuatan besar dengan risiko membesar jika tak segera diredam.

Masih belum diketahui apakah Iran akan menggunakan senjata nuklir untuk menghadapi Israel dan negara sekutunya.

Sumber: JurnalLugas.Com

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Trump Ancam Naikkan Tarif Impor India Tuding Raup Untung Minyak Rusia AS Intervensi Dagang Bernuansa Otoriter

Pos terkait