Iran Pertimbangkan Akhiri MoU dengan AS, Negosiasi Terancam Gagal

JurnalLugas.Com — Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase yang penuh ketidakpastian.

Di tengah upaya diplomasi yang sebelumnya menghasilkan nota kesepahaman (MoU) untuk menghentikan konflik bersenjata, Teheran kini membuka kemungkinan mengakhiri komitmen tersebut setelah menilai Washington berulang kali melanggar isi kesepakatan.

Bacaan Lainnya

Pernyataan itu disampaikan Duta Besar sekaligus Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amir Saeid Iravani, usai menghadiri pertemuan Dewan Keamanan PBB pada Jumat, 10 Juli 2026.

Menurut Iravani, Iran sejauh ini tetap berpegang pada pelaksanaan MoU yang disepakati di Islamabad.

Namun, komitmen tersebut bergantung pada sikap Amerika Serikat yang juga wajib menjalankan seluruh kewajibannya sebagaimana tercantum dalam perjanjian.

“Iran akan tetap menjalankan kesepakatan selama pihak lain juga mematuhinya. Jika pelanggaran terus terjadi, maka kewajiban Iran dalam MoU tersebut dapat dipertimbangkan kembali,” ujarnya.

Serangan Militer Jadi Pemicu Ketegangan

Pemerintah Iran menilai aksi militer Amerika Serikat dalam beberapa hari terakhir telah memperburuk situasi.

Serangan yang dilakukan Washington disebut bertentangan dengan semangat penghentian permusuhan yang sebelumnya telah disepakati kedua negara.

Iravani menegaskan tindakan tersebut tidak hanya dinilai melanggar isi nota kesepahaman, tetapi juga dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengatur larangan penggunaan kekuatan secara sepihak.

Ia menambahkan bahwa seluruh konsekuensi hukum maupun politik akibat tindakan tersebut menjadi tanggung jawab Amerika Serikat.

Konflik Kembali Memanas

MoU penghentian konflik diketahui ditandatangani secara jarak jauh pada 18 Juni 2026 setelah kedua negara terlibat ketegangan bersenjata sejak akhir Februari.

Namun situasi kembali berubah ketika Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran pada 8 dan 9 Juli.

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan operasi itu dilakukan sebagai respons atas pembatasan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Sebagai balasan, Iran dilaporkan meluncurkan serangan yang menyasar fasilitas militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait.

Aksi saling serang tersebut memperbesar kekhawatiran dunia terhadap potensi meluasnya konflik di kawasan Timur Tengah.

Diplomasi Masih Memiliki Peluang

Di tengah meningkatnya ketegangan, jalur diplomasi belum sepenuhnya tertutup.

Putaran baru perundingan antara Amerika Serikat dan Iran dilaporkan tengah dipersiapkan dan diperkirakan berlangsung pada pekan depan di Swiss.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga menyatakan bahwa proses negosiasi akan tetap dilanjutkan.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa masa gencatan senjata sebelumnya telah berakhir sehingga pembicaraan mendatang diperkirakan berlangsung dalam suasana yang jauh lebih kompleks.

Perkembangan hubungan kedua negara menjadi perhatian komunitas internasional karena berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan kawasan, jalur perdagangan energi global, hingga kondisi ekonomi dunia apabila eskalasi kembali meningkat.

Ikuti perkembangan berita internasional dan isu geopolitik terbaru hanya di JurnalLugas.Com.

(Dahlan)

Tombol Google News - JurnalLugas
Baca Juga  Tol Kapal di Selat Hormuz Kini Dibayar Pakai Bitcoin, Ini Rinciannya

Pos terkait