JurnalLugas.Com – Fenomena iklim El Nino kembali terdeteksi setelah sekitar dua tahun tidak muncul.
Para ilmuwan kini memantau perkembangan kondisi tersebut karena berpotensi meningkat menjadi super El Nino, sebuah fase yang dapat memicu cuaca ekstrem dan memberikan dampak luas terhadap sektor pertanian Jepang.
Meski secara umum El Nino identik dengan musim panas yang relatif lebih sejuk di Jepang, para pakar memperingatkan bahwa kondisi tahun ini berpotensi berbeda.
Kombinasi perubahan suhu laut dan dinamika atmosfer diperkirakan justru meningkatkan peluang terjadinya gelombang panas berkepanjangan pada musim panas 2026.
Jika skenario tersebut terjadi, produksi beras Jepang dikhawatirkan kembali terdampak seperti yang pernah dialami dalam periode 2023–2024, ketika suhu tinggi menyebabkan kualitas panen menurun dan memicu kelangkaan pasokan di sejumlah daerah.
Ancaman Super El Nino Jadi Sorotan
El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di kawasan Samudra Pasifik bagian timur, terutama di wilayah pengamatan lepas pantai Peru.
Fenomena ini dinyatakan terjadi apabila suhu laut meningkat sedikitnya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata dalam waktu lebih dari enam bulan.
Namun perhatian para peneliti kini tertuju pada kemungkinan terbentuknya super El Nino, yaitu ketika kenaikan suhu permukaan laut mencapai sedikitnya dua derajat Celsius.
Sejak pertengahan abad ke-20, kejadian super El Nino tergolong langka. Dari belasan episode El Nino yang tercatat, hanya sebagian kecil yang berkembang hingga mencapai kategori tersebut.
Pola Cuaca Tahun Ini Diprediksi Berbeda
Para meteorolog menjelaskan, pola atmosfer tahun ini diperkirakan tidak mengikuti karakter El Nino pada umumnya.
Perairan di sekitar Filipina diperkirakan tetap hangat sehingga aktivitas pembentukan awan masih berlangsung aktif.
Kondisi tersebut membuat sistem tekanan tinggi di Samudra Pasifik bergerak lebih jauh ke utara dan membuka jalan bagi massa udara panas menyelimuti sebagian besar wilayah Jepang.
Akibatnya, suhu udara selama periode Juli hingga September diperkirakan berada di atas normal, terutama di Jepang bagian timur, barat, serta wilayah Okinawa dan Amami.
Sementara kawasan utara diperkirakan mengalami suhu mendekati hingga sedikit lebih tinggi dari rata-rata.
Petani Mulai Beradaptasi
Ancaman cuaca panas membuat banyak petani mulai menyesuaikan strategi budidaya.
Salah satunya dilakukan petani di Kota Matsuyama, Koji Nishimoto, yang memilih menanam varietas padi tahan panas “Niji no Kirameki” untuk menghadapi risiko penurunan kualitas hasil panen.
“Saya tetap khawatir menghadapi panas ekstrem, tetapi pilihan yang tersedia memang terbatas. Banyak petani lain juga mulai mengganti varietas tanam,” ujarnya.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya adaptasi terhadap perubahan iklim yang semakin sering memengaruhi sektor pertanian Jepang.
Varietas Tahan Panas Semakin Diminati
Kepala Kelompok Pemuliaan Padi Organisasi Nasional Penelitian Pertanian dan Pangan Jepang, Ryota Kaji, mengungkapkan bahwa penyebaran varietas padi tahan suhu tinggi berlangsung jauh lebih cepat dibanding perkiraan awal.
Menurutnya, tingginya minat petani menunjukkan bahwa ancaman panas ekstrem kini benar-benar dirasakan di lapangan.
“Penyebaran varietas ini berkembang lebih cepat dari yang kami prediksi. Itu menunjukkan banyak produsen sedang menghadapi tantangan akibat suhu tinggi,” kata Kaji.
Dampaknya Tidak Hanya pada Beras
Profesor meteorologi Universitas Mie, Yoshihiro Tachibana, menilai pengalaman El Nino sebelumnya memperlihatkan bagaimana kenaikan suhu laut mampu berdampak langsung terhadap kualitas hasil panen beras.
Ia mengingatkan bahwa perubahan iklim tidak hanya berisiko bagi tanaman pangan, tetapi juga sektor pertanian lainnya hingga perikanan.
“Kesadaran terhadap dampak pemanasan global harus terus ditingkatkan. Selain beradaptasi menghadapi cuaca ekstrem, upaya mengurangi emisi karbon juga menjadi bagian penting untuk menekan risiko di masa depan,” ujar Tachibana.
Para ahli menilai langkah adaptasi di tingkat petani harus berjalan seiring dengan kebijakan mitigasi perubahan iklim agar ketahanan pangan tetap terjaga ketika fenomena cuaca ekstrem semakin sering terjadi.
Ikuti berita internasional, ekonomi, lingkungan, dan sains terbaru lainnya di JurnalLugas.Com.
(Handoko)






