Trump Ancam Serang Lagi Fasilitas Nuklir Iran Abbas Araghchi Fordow Pulih

JurnalLugas.Com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan peringatan tegas terhadap Iran. Dalam pernyataan terbarunya, Trump menegaskan kesiapannya untuk kembali melancarkan serangan terhadap situs-situs nuklir Iran jika situasi dianggap mendesak.

Pernyataan tersebut disampaikan melalui platform Truth Social pada Senin, 21 Juli 2025, menyusul pengakuan dari pihak Iran bahwa fasilitas pengayaan uranium mereka mengalami kerusakan berat akibat serangan udara AS beberapa waktu lalu.

Bacaan Lainnya

“Sudah pasti rusak, seperti yang saya bilang. Dan kami akan lakukan lagi, kalau memang perlu!” tulis Trump, sekaligus mengkritik laporan media yang sebelumnya meragukan skala kerusakan dari serangan tersebut.

Trump juga menanggapi langsung wawancara eksklusif Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dengan jurnalis senior Bret Baier. Dalam wawancara tersebut, Araghchi mengakui bahwa sejumlah fasilitas utama pengayaan uranium di Iran telah “hancur total” akibat serangan udara AS.

Iran: Serangan Tidak Akan Menghentikan Program Nuklir

Meski mengakui kerusakan parah, Araghchi menegaskan bahwa Teheran tetap berkomitmen untuk melanjutkan program pengayaan uranium. Ia menyebut langkah itu sebagai bagian dari kedaulatan dan kebanggaan nasional Iran.

“Program ini tidak akan berhenti. Begitu fasilitas kami pulih, kami akan lanjutkan lagi. Ini bukan hanya soal energi, tapi martabat bangsa,” ujar Araghchi dalam wawancara tersebut.

Baca Juga  AS Tolak Klaim Iran atas Selat Hormuz, Marco Lampaui Hukum Internasional

Iran juga terus menolak tudingan AS dan Israel yang menuduh negara itu tengah mengembangkan senjata nuklir. Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya murni untuk kepentingan damai dan sipil, seperti pengobatan dan pembangkit listrik.

Ketegangan Memuncak Pasca Serangan Timbal Balik

Hubungan antara Washington dan Teheran kembali memburuk sejak pecahnya konflik bersenjata pada Juni lalu. Ketegangan itu dipicu oleh serangkaian serangan udara timbal balik antara kedua negara.

Konflik memuncak dengan serangan besar-besaran ke sejumlah wilayah strategis Iran, termasuk fasilitas nuklir di Natanz dan Fordow. Serangan ini memaksa Iran menangguhkan sebagian besar operasional pengayaan uraniumnya.

Sementara itu, gencatan senjata sementara diberlakukan pada akhir Juni 2025, namun situasi tetap dinilai rapuh oleh pengamat internasional.

Ancaman Baru, Eskalasi Baru?

Pernyataan Trump dipandang oleh analis sebagai sinyal bahwa AS tidak akan ragu menggunakan kekuatan militer kembali apabila Iran tetap melanjutkan proyek nuklirnya.

Menurut Michael Doran, analis kebijakan luar negeri dari Hudson Institute, pernyataan Trump bukan hanya retorika belaka. “Kita sedang melihat pola lama dari Trump: tekanan maksimal. Jika Iran memprovokasi, maka respons militer akan sangat mungkin terjadi,” jelas Doran dalam wawancara dengan Fox News.

Sementara itu, pemerintahan Iran menyatakan akan membawa isu ini ke Dewan Keamanan PBB, menuding AS telah melanggar hukum internasional melalui tindakan sepihak yang merusak stabilitas kawasan.

Baca Juga  AS Gagal Tekan Iran, Mohammad Reza Aref Trump Tak Dapat Hasil Apa Pun

Komunitas Internasional Menyerukan Deeskalasi

Sejumlah negara menyerukan kedua pihak untuk menahan diri. Sekjen PBB António Guterres meminta agar segala bentuk provokasi dihentikan dan semua pihak kembali ke meja perundingan.

“Kami sangat prihatin atas perkembangan situasi ini. Eskalasi lebih lanjut hanya akan membawa penderitaan bagi rakyat sipil dan mengguncang keamanan global,” ujar Guterres dalam pernyataan tertulis.

Uni Eropa juga mendesak Iran agar transparan dalam kegiatan nuklirnya dan mengizinkan pengawasan penuh oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Sementara itu, AS diminta menahan diri dari aksi militer sepihak.

Menanti Babak Baru Ketegangan

Meski ada upaya diplomatik, pengamat menilai pernyataan Trump bisa menjadi pemicu ketegangan baru. Terlebih dengan fakta bahwa sebagian besar fasilitas nuklir Iran belum sepenuhnya hancur dan masih memiliki potensi untuk diaktifkan kembali.

Dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Washington dan Teheran, di tengah kekhawatiran bahwa konflik terbuka bisa kembali pecah sewaktu-waktu.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi JurnalLugas.Com.

Tombol Google News - JurnalLugas

Pos terkait